Berdasarkan penelitian yang dilakukan di waduk Karangkates ditemukan beberapa spesies mikroalga diantaranya dari devisi Cyanophyta, Chlorophyta, Euglenophyta dan Crysophyta yaitu sebagai berikut:
a. Pandorina
Karakteristik:
1. Koloni berbentuk bola
2. Jumlah sel dalam koloni 4, 8, 16 atau 32 sel
3. Semua sel dalam koloni ukurannya hampir sama
4. Sel- sel dalam koloni berdempetan rapat membetuk bola
Deskripsi:
Bentuk koloni bulat sampai lonjong, berisi 4, 8, 16 atau 32 sel. Matriks gelatinous mungkin dua lapis, yang terluar lebih encer. Bentuk sel biasanya piriform dengan dua flagella( biflagella) yang muncul dari bagian anterior sel. Bintik mata terletak pada bidang sel yang menghadap ke luar( eksterior). Pada dasar flagella terdapat vakuola kontraktil. Kloroplas berbentuk mangkuk dengan satu atau beberapa pirenoid. Pembiakan aseksual dengan pembentukan koloni- koloni anak secara serentak oleh semua sel pada koloni ( seperti pada volvox). Pembiakan seksual secara anisogami antara gamet- gamet heterotalus. Pada famili volvocaceae jumlah sel dalam koloni, susunan dan bentuknya telah mempunyai pola yang tetap keadaan ini disebut senobia( senobium) (Prasetyo, 1987).
b. Nostocopsis lobatus
Mikroalga ini termasuk dalam devisi Cyanophyta. Trikoma marga ini selalu berubah-ubah, tertanam dalam suatu selubung gelatinous. Koloni yang masih muda berukuran mikroskopis, berbentuk menyerupai bola dan padat. Ketika telah dewasa, koloni tetap padat atau mungkin beronnga, dan mungkin sobek menjadi lembaran-lembaran yang tidak beraturan bentuknya. Koloni dewasa berukuran makroskopis dengan diameter sampai beberapa sentimeter, bahkan diameter koloni N.amplissium dapat mencapai 50 cm. Heterokista intercalary biasanya soliter dengan bentuk dan ukuran seperti sel vegetatif. Pembentukan hormogonia pada alga ini terjadi akibat putusnya trichoma di bagian persambungan antara heterokista dengan sel vegetatif. Bertambah banyaknya trichoma dalam koloni dewasa diakibatkan hormogonium yang terlepas dan berkembang menjai trichoma tetap berada di dalam koloni yang sama. Akinet tidak terbentuk sebelum koloni mencapai kematangan.
c. Cladophora
Cladophora sp termasuk kedalam kelompok alga hijau (Clorophyta). Alga hijau adalah tanaman menyerupai protista ditemukan pada kingdom protista. Protista adalah suatu eukariotik, organisme uniselular ataupun multiselular. Seperti tanaman, alga hijau mempunyai chloroplast, dan selnya dikuatkan dengan dinding sel. Alga hijau adalah organisme perairan yang berkembang biak dengan fotosintesis. Alga hijau adalah bagian dari fitoplankton peraiarn segar, yang mana menghasilkan energi yang mempertahankan keseluruhan komunitas organisme. Alga hijau tidak hanya sebagai penyedia makanan, tapi mereka juga berperan sebagai peraturan kunci dalam ekosistem aliran sungai karena mereka menghasilkan oksigen.
Dinding sel Chlorophyta tersusun oleh lapisan selulosa yang mengandung pectin. Selubung sel disusun oleh polimer-polimer manosa atau ksilosa serta asam-asam amino, khususnya hidroksipolin.
Ketika diuji dengan mikroskop, Cladophora sp termasuk jenis alga berfilamen. Filament Cladophora fracta bercabang, yang mana seringkali terpisah dengan jarak tertentu. Daun pakis dari Cladophora sp seringkali ditutupi ephifitik diatoms, yang faktanya disini bisa jadi banyak diatom yang sulit untuk mengamati sel Cladophora sp.
d. Merismopedia elegans
Koloni pada spesies ini setebal satu lapis sel mengapung bebas di air. Sel-sel dalam koloni tersusun teratur dalam deretan vertikal atau transfersal. Bentuk sel elips melebar. Selubung gelatin pembungkus setiap sel jarang terlihat jelas batasnya, dan biasanya melebur dengan selubung sel lainnya membentuk matriks koloni yang tidak berwarna. Susunan sel yang teratur dalam koloni disebabkan oleh pembelahan sel yang berurutan dengan bidang belah yang tetap. Koloni Merismopedia biasanya berada bersama-sama dengan koloni ganggang lain yang mengapung bebas di air.
e. Ulotrix
Ulothrix adalah salah satu spesies ganggang hijau yang berbentuk filamen. Tubuh Ulothrix terdiri atas sel-sel yang berbentuk silindris dan tersusun memanjang seperti benang. Ganggang ini hidup di air tawar yang airnya tidak terlalu hangat dan hidup menempel pada batu-batu atau di dasar perairan.
• Perkembangbiakan vegetatif (aseksual) Ulothrix dengan membentuk zoospora. Zoospora akan menanggalkan flagelnya dan tumbuh menjadi ganggang baru.
• Perkembangbiakan generatif (seksual) Ulothrix dilakukan dengan isogami. Pada Ulothrix ditemukan adanya pergantian generasi tumbuhan yang menghasilkan spora dan generasi berikutnya menghasilkan gamet-gamet yang bentuk dan ukurannya sama, oleh karena itu disebut isogamet. Apabila gamet bertemu dengan gamet dari koloni lain, keduanya bergabung dan membentuk zigot yang kemudian tumbuh menjadi ganggang baru. Tiap sel vegetatif dapat menghasilkan 32 gamet atau lebih.
h. Rivularia
Rivularia mempunyai tubuh seperti bola diselubungi oleh lendir, trikomnya meruncing, hidup menempel pada tanaman air/batuan yang lembap, dan tidak memiliki akinet.
Marga Rivularia memiliki cirri khas yang berbeda dengan marga-marga lain dalam suku Rivulariaceae. Setiap trachoma dalam koloni memiliki selubung sendiri-sendiri atau bergabung satu dengan lainnya. Bentuk trachoma meruncing dari bagian basal ke ujung. Heterokista terletak di bagian basal trikoma. Trikoma-trikoma tersusun radial dalam koloni berbentuk bola, atau tersusun tersusun tidak teratur dalam massakoloni yang luas dengan ukuran yang makroskopis. Bentuk susunan radial dihasilkan akibat pemebntukan cabang semu yang berulang-ulang dari bagian basal trikoma. Rivularia tidak membentuk akinet. Marga ini tumbuh dalam batu-batuan, kayu atau tanaman yang ada di air.
i. Volvox
Volvox adalah salah satu spesies ganggang hijau yang berbentuk koloni. Koloni Volvox berbentuk menyerupai bola. Pada sel-sel vegetatif bagian tepi berflagel dua. Koloni sel tersebut dihubungkan satu dengan yang lain melalui benang-benang sitoplasma. Volvox hidup di air tawar misalnya di sawah atau di kolam.
- Perkembangbiakan vegetatif dengan menggunakan sel-sel vegetatif yang ukurannya lebih besar dari sel vegetatif lainnya yang terdapat di dalam koloni. Sel-sel itu dinamakan gonidia yang merupakan sel pemula. Koloni anak gonidia akan membelah berulang kali sehingga terbentuk koloni baru yang berukuran kecil, yang kemudian lepas dari koloni induk dan tumbuh menjadi koloni Volvox baru.
- Perkembangbiakan generatif, Volvox secara oogami sebagai berikut. Di dalam koloni terdapat sel vegetatif yang lebih besar dari sel vegetatif yang lain. Sel vegetatif tersebut akan berkembang menjadi anteridium yang menghasilkan anterozoid dan oogonium yang menghasilkan sel telur (ovum). Ovum yang telah dibuahi menjadi zigot yang kemudian mengalami pembelahan, sehingga terbentuk koloni anak.
j. Staurastrum
Staurastrum termasuk devisi Clorophyta denagn ordo Zignemantales. Ciri-ciri dari ordo ini yaitu:
a. gamet bersifat amoeboid dan tidak berflagel
b. tubuh vegetatif uniseluler atau bentuk filamen yang tidak bercabang
c. klorplas mempunyai bentuk yang bervariasi misalnya bentuk pita spiral, bintang atau cakram
k. Asterococcus
Asterococcus termasuk dalam golongan devisi Clorophyta dengan kelas Chlorophyceae, alga ini merupakan kelompok terbesar dari vegetasi alga. Perbedaan dengan devisi lain yaitu karena memiliki warna hijau yang jelas seperti pada tumbuhan tingkat tinggi karena mengandung pigmen klorofil a dan klorofil b lebih dominan dibandingkan karoten dan xantofil. Hasil asimilasi beberapa amilum, penyusunnya sama pula seperti pada tumbuhan tingkat tinggi yaitu amilose dan amilopektin. Seringkali amilum tersebut terbentuk dalam granula bersama dengan badan protein dalam plastida disebut pirenoid. Tetapi beberapa jenis tidak mempunyai pirenoid.
Genus: Planktonic; unicellular atau koloni dari 4, 8, atau 16 sel; kedua sel dan koloni ditutup dengan lapisan lendir dari kelopak; sel tubuh bulat; dinding sel halus; satu bintang chloroplast berbentuk, dengan pyrenoid terletak di pusat.
l. Scenedesmus
Scenedesmus adalah salah satu spesies ganggang hijau yang berbentuk koloni. Ganggang ini menghasilkan antibiotik yang disebut scenedesmis.
Scenedesmus adalah kecil, nonmotile kolonial alga hijau yang terdiri dari sel berpihak pada flat plate. Koloni yang paling sering ada dua atau empat sel, tetapi mungkin ada 8, 16, atau 32 jarang dan kadang-kadang unicellular. Sel biasanya silinder, namun mungkin lebih semi bulan, bujur telur, atau fusiform. Biasanya pada akhir setiap sel memiliki dua panjang spines hingga 200 μm panjang menonjol dari sudut luar, dan lain-lain sel Mei spines ada tambahan atau chitonous bristles. Setiap sel berisi satu parietal, seperti piring-chloroplast dengan satu pyrenoid. Dinding sel yang mungkin tercakup dalam gundukan atau reticulations yang terbaik dilihat dengan scanning elektron mikroskopis.
m. Gymnodinium
Gymnodinium adalah genus dari dinoflagellates. Ia adalah satu dari sedikit telanjang dinoflagellates kurang baja (cellulosic piring). Sejak tahun 2000, spesies yang telah dianggap sebagai bagian dari Gymnodinium telah dibagi menjadi beberapa genera, berdasarkan sifat yang apical alur dan biokimia (khususnya, identitas utama carotenoid).
Gymnodinium merupakan contoh Dinoflagellata yang tubuhnya tidak tersusun oleh pelat-pelat. Banyak dijumpai hidup di air tawar dan air laut, merupakan dinoflagellata yang cingulumnya terletak di tengah-tengah dan melingkari sel dengan sempurna dan berakhir pada permukaan ventral.
n. Euglena
Termasuk semua anggota Euglenophyceae yang selama hidupnya sel selalu mempunyai flagel dan dapat bergerak. Hidupnya soliter, tidak pernah membentuk koloni. Kloroplast berbentuk cakram sampai bentuk pita. Spesies tertentu dari Euglena yang mempunyai khloroplast juga menghasilkan pigmen merah (euglenarhodone), yang jumlahnya dapat demikian banyak sehingga mengaburkan isi selnya. Euglenarhodone adalah suatu keton karetenoid.
Makanan Euglena sangat bervariasi meliputi segala organisme.hidup. Cytostoma Euglena dapat digembungkan dengan sangat besar untuk menelan mangsanya yang besar.
Bila Euglena tumbuh di tempat gelap dengan substrat organik yang cocok, warnanya hilang, tetapi akan berwarna kembali bila ada cahaya. Pada keadaan yang luar biasa, Euglena dapat menghasilkan suatu varietas/ras yang tidak berwarna (apokhlorotik), ras ini tetap tidak berwarna meskipun ada cahaya. Ras apokhlorotik ini dapat diperoleh dengan memperlakukan sel Euglena dengan streptomysin dalam cahaya.
Cadangan makanan Euglena berupa paramylum, yaitu karbohidrat yang tidak larut, bentuknya dapat berupa cakram cincin, batang atau bulat, yang kadang-kadang ukurannya relatif besar. Paramylum berupa polysaccharida yang rumus molekulnya menyerupai tepung/pati, tetapi tidak bereaksi dengan tes pati. Butir paramylum menyerupai butir pati/amylum, yaitu mempunyai lapisan yang konsentris.
Euglena sering kali dapat memberi warna pada air bila dalam jumlah yang banyak. Banyak dijumpai di dalam kolam-kolam kecil yang banyak mengandung bahan organik. Dalam bentuk kehidupan yang saprofit tanpa zat warna, jarang dijumpai dan bila ada biasanya terdapat pada tempat-tempat dimana terjadi purifikasi (pembusukan). Beberapa jenis Euglena hidup pada lumpur sepanjang tepi sungai, estuarine, atau payau-payau bergaram. Pada tempat ini dapat tumbuh subur sehingga cukup memberi warna pada lumpur. Jika populasinya di kolam sangat banyak, maka menyebabkan permukaan kolam seperti tertutup lapisan hijau yang dapat berubah warna menjadi merah dalam beberapa jam.
o. Oscillatoria
Oscillatoria adalah genus dari berserabut Cyanobacteria yang bernama untuk osilasi dalam gerakan.. Filaments di koloni dapat geser bolak-balik terhadap satu sama lain sampai seluruh massa adalah reoriented nya sumber cahaya. Hal ini umumnya ditemukan di mata air-troughs air, dan terutama biru-hijau atau coklat-hijau.. Oscillatoria merupakan organisme yang bereproduksi dengan cara fragmentasi. Oscillatoria bentuk panjang filaments dari sel yang dapat dipanggil ke dalam fragmen hormogonia. Hormogonia yang dapat tumbuh menjadi baru, kawat halus lagi.. Istirahat di kawat halus biasanya terjadi di mana sel-sel mati (necridia) yang hadir. Oscillatoria menggunakan fotosintesis untuk bertahan hidup dan reproduksi.
p. Anabaena
Anabaena azollae merupakan koloni bentuk benang yang terdiri atas sel-sel bulat dan memiliki sel khusus heterokista dengan sedikit lapisan lendir dan spesies dari divisi Cyanophyta (alga biru). Hidup bersombiosis dengan tumbuhan paku air Azolla pinnata dan dapat mengikat nitrogen dari udara. Anabaena ini dapat menyuburkan tanah pertanian. Dari segi agama, Anabaena hidup tanpa dilapisi lendir. Lendir berfungsi dalam melindungi diri dari serangan luar. Artinya untuk mempertahankan hidupnya ia tidak bergantung pada lendir itu. Dalam kehidupan sosial, ia dapat bergabung dengan siapapun seperti tumbuhan paku yang sangat jauh berbeda dengannya. Ia tidak merugikannya, namun bekerja sama sehingga memberikan manfaat bagi sekitarnya.
q. Oscillatoria
Filamem ganggang ini mungkin sendirian atau mungkin tumpang tindih dengan filament yang lain, membentuk suatu lapisan yang luasnya tidak terbatas. Setiap individual trichome tidak bercabang berbentuk silindris, ada yang berselubung dan ada yang tidak. Spesies yang memiliki trichome tidak lebar tersusun dari sel-sel berbentuk silindris. Panjang sel silindris ini kurang lebih sama atau lebih panjang dari lebar sel. Sebaliknya spesies yang trichomenya lebar memiliki sel-sel yang diameternya selalu lebih besar dari panjang sel itu sendiri. Sel-sel ujung trichome ada yang melengkung dengan diameter kurang lebih sama dengan diameter sel di bawahnya. Ada pula sel ujung trichome yang berbentuk papak atau ujungnya membentuk bulatan kecil. Dinding sel-sel ujung ada yang sama dengan dinding sel lain penyusun trichome, atau mungkin lebih tebal membentuk kaliptra. Tergantung spesies, protoplasma sel ada yang homogen, bergranula dengan penyebaran teratur atau tidak teratur, atau mengandung banyak pseudovakuola.
Oscillatoria adalah genus dari berserabut cyanobacteria yang bernama untuk osilasi dalam gerakan. Filaments di koloni dapat geser bolak-balik terhadap satu sama lain sampai seluruh massa adalah reoriented nya sumber cahaya. Hal ini umumnya ditemukan di mata air-troughs air, dan terutama biru-hijau atau coklat-hijau. Oscillatoria merupakan organisme yang reproduces oleh fragmentasi. Oscillatoria bentuk panjang filaments dari sel yang dapat dipanggil ke dalam fragmen hormogonia. Hormogonia yang dapat tumbuh menjadi baru, kawat halus lagi. Istirahat di kawat halus biasanya terjadi di mana sel-sel mati (necridia) yang hadir. Oscillatoria menggunakan fotosintesis untuk bertahan hidup dan reproduksi.
r. Euglena
Susunan tubuhnya dibatasi oleh partikel atau periplas yang merupakan membran plasma yang menebal, ada yang kaku contohnya Phacus dan ada yang lentur contohnya Euglena dan Paranema. Pada yang bersifat lentur periplas juga sebagai alat gerak, gerak periplas ini juga disebut gerak euglenoid.
Isi dari sel adalah mengndung inti tunggal, plastida ada yang berpigmen bersusun banyak dan bentuk cakram, mengandung pirenoid. Sedangkan jenis tidak berpigmen adalah Astasia dan Paranema. Pigmen terdiri klorofil a danb, ß karoten. Cadangan makanan dalam bentuk butiran yang tersebar diantara plastida disebut paramilum. Alat gerak yang utama pada Euglenophyceae adalah flagella bertipe tinsel, bervariasi berdasarkan jumlah dan ukurannya. Alat lain yang dimiliki Euglenaphyceae antara lain adalah reservoar, sitostoma, vakoula kontraktil, dan stigma.
Reproduksi hanya dengan satu cara yaitu pembelahan sel biner longitudinal. Pada keadaan yang tidak menguntungkan hidup secara vegetatif, Euglena membentu sista. Secara umum mempunyai cara hidup yang lengkap, yaitu dapat bersifat saprofit, holozoik, fototrofik oleh karena itu dapat hidup secara heterotrof dan autotrof. Tetapi yang lebih sering dilakukan adalah secara heterotrof, autotrof dilakukan apabila lingkungan kurang terdapat bahan organik. Oleh karena itu Euglenophyceae sering disebut bersifat
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2009. Alga. http://www.edukasi.net. Diakses pada tanggal 24 Juni 2009.
Anonymous. 2008. Buku Ajar Protista. http://alga/Buku%20Ajar%20Protista.htm. Diakses pada tanggal 19 Juni 2009.
Kooistra WHCF, Coppejans EGG & Payri C. 2002. Molecular systematics, historical ecology, and phylogeography of Halimeda http://www.algaebase.org/browse/taxonomy/ ? id = 8210. Diakses pada tanggal 19 Juni 2009.
Sulisetjono. 2009. Alga. Malang: UIN Malang.
Minggu, 01 Januari 2012
Jumat, 30 Desember 2011
HUKUM DASAR KIMIA
Pada mulanya hanya sedikit diketahui mengenai sifat –sifat dari zat dan reaksi kimia sehingga tidak mengherankan apabila timbul teori yang salahmengenai teori dari zat. Misalnya, telah lama diketahui bahwa apabila sepotong kayu bakar, abu yang terbentuk beratnya lebih kecil dari berat kayu asal. Teorinya adalah karena ada sesuatu yang disebut phlogiston yang menguap selama pembakaran.
Teori phlogiston ini hidup terus untuk beberapa lama sampai seorang ahli kimia prancis yang bernama Antoine laurent Lavoisier mendemonstrasikan dengan suatu percobaan dimana pengukuran berat dari zat kimia dibuat secara teliti,bahwa pembakaran adalah suatu reaksi antara zat dan oksigen. Lavoisier juga menunjukkan dengan cara pengukuran teliti untuk membuktikan bahwa apabila pembakaran dilakukan dalam wadah yang tertutup,pada waktu reaksi tidak ada perubahan massa. Penelitian dan percobaan yang dilakukan pada suasana yang terkontrol menjadi dasar hukum kekekalan massa, yang berbunyi; “dalam suatu reaksi,massa zat sebelum dan setelah reaksi adalah sama”. Lavoisier adalah orang pertama yang mengamati bahwa reaksi kimia analog dwngan persamaan aljabar.
Hukum kekekalan massa adalah hokum kimia yang yang penting yang berhubungan dengan reaksi kimia dan digunakan sebagai penyebab mengapa diadakan kesetimbangan persamaan kimia.
Pada tahun 1789, Lavoisier melakukan percobaan dengan memanaskan logam raksa atau merkuri yang berwarna putih perak dengan oksigen untuk membentuk merkuri oksida yang berwarna merah.
Lavoisier melakukan penelitian dengan menggunakan 530 gram logam raksa atau merkuri yang dibakar dalam tabung tertutup menghasilkan 572,4 gram raksa (II) pksida dan ternyata udara dalam tabung itu berkurang 42,4 gram.
2 HgO → 2Hg + O2
Meskipun pada saat itu identitas gas tersebut (oksigen) belum diketahui.
Berdasarkan percobaan ini Lavoisier menyimpulkan jika suatu reksi kimia dilakukan dalam tempat tertutup sehingga zat-zatnya tidak hilang
Contoh soal..
1. Dalam tabung tertutup direaksikan 32 gram belerang dan 63,5 gram tembaga. Maka berapa massa tembaga (II) sulfida?
2. Sejumlam logam besi dipijarkan dengan 3,2 gram belerang menghasilkan 8,8 gram senyawa besi (II) sulfida. Berapa gram logam besi yang telah bereaksi?
3. 18 gram glukosa dibakar dengan oksigen menghasilkan 26,4 gram gas karbondioksida dan 10,8 gram uap air. Berapa gram oksigen yang diperlukan pada pembakaran tersebut?
4. Berapa gram oksigen yang dipakai pada reaksi pembakaran 2,4 gram magnesium di udara dan dihasilkan 4 gram magnesium oksida?
5. Apakah hukum Lavoisier berlaku pada reaksi pembakaran? Misalnya pada pembakaran kertas dihasilkan abu yang massanya lebih kecil dari massa kertas sebelum dibakar? Jelaskan!
6. Sebatang kayu yang massanya 4 gram dibiarkan berkarat . Apakah massa karat sama , lebih basar, atau lebih kecil dadi massa paku mula-mula? Jelaskan!
7. Dua liter gas Nitrogen (D,T) bereaksi dengan 5 liter gas oksigen (D,T) mambentuk 2 liter gas NxOy (D,T). Jika ditshui rumus molekul gas nitrogen adalah N2 dan oksigen adalah O2. Tentukan rumus molekul gas NxOy tersebut.
Daftar Pustaka:
Brady,James E. 2002. KIMIA UNIVERSITAS ASAS dan STRUKTUR, Jilid 1. Tanggerang; Binarupa Aksara Publisher.
Isnardinti, Sri.2006. Buku Ajar Kimia. Solo: cv.Sindunata.
Teori phlogiston ini hidup terus untuk beberapa lama sampai seorang ahli kimia prancis yang bernama Antoine laurent Lavoisier mendemonstrasikan dengan suatu percobaan dimana pengukuran berat dari zat kimia dibuat secara teliti,bahwa pembakaran adalah suatu reaksi antara zat dan oksigen. Lavoisier juga menunjukkan dengan cara pengukuran teliti untuk membuktikan bahwa apabila pembakaran dilakukan dalam wadah yang tertutup,pada waktu reaksi tidak ada perubahan massa. Penelitian dan percobaan yang dilakukan pada suasana yang terkontrol menjadi dasar hukum kekekalan massa, yang berbunyi; “dalam suatu reaksi,massa zat sebelum dan setelah reaksi adalah sama”. Lavoisier adalah orang pertama yang mengamati bahwa reaksi kimia analog dwngan persamaan aljabar.
Hukum kekekalan massa adalah hokum kimia yang yang penting yang berhubungan dengan reaksi kimia dan digunakan sebagai penyebab mengapa diadakan kesetimbangan persamaan kimia.
Pada tahun 1789, Lavoisier melakukan percobaan dengan memanaskan logam raksa atau merkuri yang berwarna putih perak dengan oksigen untuk membentuk merkuri oksida yang berwarna merah.
Lavoisier melakukan penelitian dengan menggunakan 530 gram logam raksa atau merkuri yang dibakar dalam tabung tertutup menghasilkan 572,4 gram raksa (II) pksida dan ternyata udara dalam tabung itu berkurang 42,4 gram.
2 HgO → 2Hg + O2
Meskipun pada saat itu identitas gas tersebut (oksigen) belum diketahui.
Berdasarkan percobaan ini Lavoisier menyimpulkan jika suatu reksi kimia dilakukan dalam tempat tertutup sehingga zat-zatnya tidak hilang
Contoh soal..
1. Dalam tabung tertutup direaksikan 32 gram belerang dan 63,5 gram tembaga. Maka berapa massa tembaga (II) sulfida?
2. Sejumlam logam besi dipijarkan dengan 3,2 gram belerang menghasilkan 8,8 gram senyawa besi (II) sulfida. Berapa gram logam besi yang telah bereaksi?
3. 18 gram glukosa dibakar dengan oksigen menghasilkan 26,4 gram gas karbondioksida dan 10,8 gram uap air. Berapa gram oksigen yang diperlukan pada pembakaran tersebut?
4. Berapa gram oksigen yang dipakai pada reaksi pembakaran 2,4 gram magnesium di udara dan dihasilkan 4 gram magnesium oksida?
5. Apakah hukum Lavoisier berlaku pada reaksi pembakaran? Misalnya pada pembakaran kertas dihasilkan abu yang massanya lebih kecil dari massa kertas sebelum dibakar? Jelaskan!
6. Sebatang kayu yang massanya 4 gram dibiarkan berkarat . Apakah massa karat sama , lebih basar, atau lebih kecil dadi massa paku mula-mula? Jelaskan!
7. Dua liter gas Nitrogen (D,T) bereaksi dengan 5 liter gas oksigen (D,T) mambentuk 2 liter gas NxOy (D,T). Jika ditshui rumus molekul gas nitrogen adalah N2 dan oksigen adalah O2. Tentukan rumus molekul gas NxOy tersebut.
Daftar Pustaka:
Brady,James E. 2002. KIMIA UNIVERSITAS ASAS dan STRUKTUR, Jilid 1. Tanggerang; Binarupa Aksara Publisher.
Isnardinti, Sri.2006. Buku Ajar Kimia. Solo: cv.Sindunata.
Senin, 26 Desember 2011
phaeophyta
Ganggang Cokelat (Phaeophyceae)
Ganggang cokelat umumnya terdapat di laut, melekat pada batu-batuan dan seringkali terdampar di pantai. Bentuk tubuhnya menyerupai tumbuhan tingkat tinggi karena memiliki alat yang mirip akar, batang dan daun. Panjang talusnya dapat mencapai 10 meter.
Ganggang ini berwarna kecoklatan karena selain mengandung klorofil juga mengandung pigmen fukosantin yang merupakan pigmen dominan dan karoten serta santofil. Cara kita mengenali tumbuhan ini di pantai adalah dengan mengamati ciri-cirinya, berupa talus berwarna cokelat yang mempunyai gelembung-gelembung udara berbentuk seperti “buah”. Adanya gelembung udara ini menyebabkan ganggang cokelat dapat mengapung dalam air laut. Gelembung udara juga mengandung cadangan udara untuk bernapas.
Ganggang cokelat berkembangbiak secara vegetatif dengan fragmentasi dan berkembangbiak secara generatif dengan oogami yaitu peleburan spermatozoid dan ovum membentuk zigot. Kemudian zigot akan tumbuh dan berkembang menjadi ganggang cokelat dewasa.
Ganggang Cokelat
Macrocystis pyrifera, menghasilkan yodium, unsur pencegah penyakit gondok.
Macrocystis, dibuat sebagai makanan suplemen hewan ternak.
Macrocystis, Laminaria, Fucus, menghasilkan asam alginat sebagai pengental produk makanan, industri dan kosmetik.
Sabtu, 17 Desember 2011
keres
kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Malvales
Famili: Elaeocarpaceae
Genus: muntigia
Spesies: Muntingia calabura L.
Keres atau kersen yang nama ilmiahnya Muntinga calabura, yang banyak tumbuh liar dimana-mana ternyata mengandung senyawa penting yang sangat bermanfaat untuk kesehatan dan obat.
Jus buah keres sangat bermanfaat bagi manusia karena didalamya mengandung berbagai macam zat yang bermanfaat bagi tubuh,terutama para Atlet dan pekerja keras karena keres bisa mencegah cedera otot saat berktivitas.
Zat zatyang terkandung dalam keres: Air (77,8 gram),Protein (0,384 gram), Lemak (1,56 Gram), Karbohidrat (17,9 gram), Serat (4,6 gram), Abu (1,14 gram), Kalsium (124,6 mg), Fosfor (84mg), Besi (1,18 mg), Karoten (0,019g), Tianin (0,065g), Ribofalin (0,037g), Niacin (0,554 g) dan kandungan Vitamin C (80,5 mg) nilai Energi yang dihasilkan adalah 380KJ/100 gram, Manfaat daun dan buah keres:
1.ANTISEPTIK - Rebusan daun kersen ini ternyata mempunyai khasiat dapat membunuh mikroba atau sebagai antiseptik.
Rebusan daun kersen terbukti dapat membunuh bakteri sbb: C. Diptheriae , S. Aureus, P. Vulgaris, S. Epidemidis, dan K. Rhizophil.
Diduga aktivitas anti bakteri dari daun kersen ini disebabbkan oleh adanya kandungan senyawa seperti tanin, flavonoids dan saponin yang dimilikinya.
2.ANTIINFLAMASI - Rebusan daun kersen juga mempunyai khasiat untuk mengurangi radang (antiinflamasi) dan juga menurunkan panas.
3.ANTITUMOR - Daun kersen dilaporkan juga mempunyai efek anti tumor, dimana kandungan senyawa flavonoid yang dipunyai daun kersen ini ternyata dapat menghambat pertumbuhan sel kanker secara invitro/laboratoris.
4. ANTI URIC ACID (ASAM URAT) - Di Indonesia secara tradisional buah kersen telah digunakan untuk mengobati asam urat dengan cara mengkonsumsi buah kersen sebayak 9 butir 3 kali sehari. Hal ini terbukti dapat mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan dari penyakit asam urat tsb
Minggu, 13 November 2011
proses terjadinya kehamilan
Agar kehamilan dapat terjadi, sistem reproduksi pria dan wanita harus dalam keadaan baik dan sehat. Pasangan suami isteri harus berhubungan seks pada saat yang tepat dalam siklus menstruasi si wanita, dan tubuh si wanita harus mampu menghasilkan rangkaian hormon kompleks sehingga kehamilan bisa terus berjalan. Pada saat lelaki mengalami ejakulasi ketika berhubungan seksual, jutaan sperma dilepaskan ke dalam vagina wanita. Sperma-sprema tersebut bergerak naik dalam vagina menuju rahim melalui serviks. Pergerakan ini didorong oleh kekuatan ejakulasi dan juga oleh gerakan ekor-ekor kecil sperma yang terlihat seperti ikan-ikan kecil yang sedang berenang. Dari rahim, sperma-sperma tersebut bergerak memasuki saluran Fallopi. Proses ini bagaikan perlombaan karena hanya satu sperma dari sekian juta yang bisa membuahi sal telur. Sperma yang lainnya akan gugur sebelum mencapai tujuannya atau terlambat sampai tujuan.
Apabila hubungan seksual terjadi tanpa alat kontrasepsi beberapa sperma mungkin akan mencapai saluran Fallopi dan satu sperma mungkin akan berhasil membuahi sel telur yang sudah menunggu. Sel telur yang sudah dibuahi tersebut kemudian akan bergerak menuju rahim wand& dan menempelkan diri di dinding rahim. Di sinilah, sel telur tadi akan berkembang, mula-mula menjadi embrio, kemudian janin, dan akhirnya menjadi seorang bayi.
Sistem reproduksi wanita terletak dalam pinggulnya, yang terdin dan ovarium, saluran Fallopi, rahim, serviks, vagina, dan vulva. Bayi perempuan terlahir dengan sekitar 2-3 juta sal telur di dalam ovariumnya. Ovarium bisa dikatakan dalam keadaan ‘tidur’ selama masa kanak-kanak dan akan mulai berfungsi hanya setelah pubertas dan menstruasi mulai terjadi. Sejak itulah. wanita usia subur melepaskan sebuah sel telur rata- rata setiap empat minggu. Jadwal bulanan ini disebut dengan siklus ovulasi atau menstruasi. Sekitar 400-500 sel telur dilepaskan oleh seorang wanita selama masa suburnya, sebelum akhirnya ovulasi berhenti pada saat menopause, yang biasanya terjadi di usia empatpuluhan atau limapuluhan.
Di awal siklus ovulasi. beberapa sal telur mulai tumbuh dalam ovanum. Setelah sekitar 14 hari, satu sel telur akan cukup matang untuk dilepaskan ke dalam saluran Fallopi. Sel telur yang dilepaskan tadi memasuki saluran Fallopi dan bergerak menuju rahim. Selama perjalanan inilah sel telur tersebut bisa dibuahi. Apabila tidak terjadi pembuahan. sekitar 14 hart setelah ovulasi. dinding rahim akan gugur dan keluar melalui vagina. Inilah yang disebut menstruasi. Kemudian, siklus di atas akan berulang kembali seperti semula.
Apabila seorang wanita mengalami menstruasi. tetapi tidak memproduksi sel telur karena alasan tertentu. kehamilan tidak akan terjadi. Namun, banyak wanita yang bisa hamil meskipun tidak pernah mengalami menstruasi tapi peluang hamilnya lebih kecil dibandingkan wanita lain.
SISTEM REPRODUKSI PRIA
Sistem reproduksi pria terdiri dari penis, testikel. dan beberapa saluran yang menghubungkan kedua organ tersebut dan mengalirkan sperma. Sperma diproduksi dalam kedua testikel, yang terdapat di dalam kantung skrotum. Lelaki tidak akan memproduksi sperma sebelum usia puber. Ribuan saluran mikroskopik dalam testikel terhubung ke dua buah saluran, yang dikenal dengan saluran-saluran eferen. Saluran-saluran ini menuju ke satu saluran, yaitu saluran epididimis. Epididimis adalah bagian dari perjalanan yang harus ditempuh sperma sebelum keluar dari tubuh seorang lelaki. Panjangnya kurang lebih 12 meter dan garis tengahnya lebih kecil dari seutas benang yang paling halus.
PERJALANAN SPERMA
Pria tidak seperti wanita, secara fisiologis dipersiapkan untuk bereproduksi setiap saat sehingga sperma selalu diproduksi secara terus-menerus. Serangkaian kontraksi otot dalam dinding saluran epididimis akan mendorong sperma-sperma tersebut melaju melaluinya. Selama perjalanan itu, spermasperma tadi mengalami modifikasi sedemikian rupa sehingga mampu melakukan pembuahan. Selain itu. sperma-sperma tersebut juga memperoleh kemampuan untuk bergerak (yang secara medis dikenal dengan sebutan motalitas) selama berada dalam saluran epididimis. Setelah itu. sperma akan melalui sebuah saluran bernama vas deferens, yang membuat sperma-sperma tersebut bergerak sangat cepat memasuki uretra, menuju ke penis. Uretra adalah saluran keluarnya urin dari dalam tubuh. Selama rangsangan seksual dan ejakulasi terjadi, bukaan antara uretra dan kandung kemih tenutup, dan air mani yang mengandung sperma-sperma melewatinya dengan kecepatan tinggi.
ADU CEPAT MENCAPAI SEL TELUR
Hanya dibutuhkan satu sperma untuk membuahi sel telur. Ketika pha mengalami ejakulasi saat berhubungan seks, sekitar 100-300 juta sperma disemprotkan ke dalam vagina wanita dengan kecepatan sekitar 45 km per jam. Setiap sperma unik secara genetik. artinya tidak ada dua sperma yang mengandung rangkaian gen yang sama persis. Jutaan sperma individual tersebut kini harus sating adu cepat untuk membuahi sel telur.
Perjalanan menuju sel telur adalah perjalanan yang berbahaya. Inilah mengapa sperma diproduksi dalam jumlah sangat banyak. Untuk berhasil membuahi sel telur, sperma harus mampu bertahan dalam lingkungan vagina wanita dan serviks. Keasaman lingkungan di dalam vagina dan serviks melindungi wanita dari bakteri dan serangan infeksi yang berbahaya, tapi lingkungan ini juga berbahaya bagi sperma. Sperma yang lemah atau rusak tidak akan berhasil mencapai tujuannya.
Selain itu, kekuatan gravitasi membuat jutaan sperma gugur dan keluar dari vagina wanita, hanya 5% saja yang akan berhasil mencapai serviks. Dari 5% tersebut, hanya sekitar 200 sperma saja yang bisa mencapai saluran Fallopi wanita. Sperma yang berhasil mencapai saluran ini berarti telah menempuh perjalanan yang sangat jauh, yang dibandingkan dengan panjang sperma itu sendiri, sama dengan beberapa ratus kilometer perjalanan.
Hanya sedikit sperma super yang bisa meneruskan perjalanan hingga bagian luar sel telur. Dan sperma-sperma tersebut, hanya satu sperma yang akan berhasil menembus permukaan sel telur meninggalkan ekornya di luar. lnilah yang disebut dengan pembuahan. Pada saat itu juga, permukaan sel telur akan menjadi tak tertembus oleh sperma yang lainnya.
Proses pembuahan sel telur bisa berlangsung hingga 24 jam. Setelah serangkaian perubahaan kompleks, yaitu 7 hari setelah pembuahan, sel telur tadi tertanam di dinding rahim. Pada saat inilah kehamilan terjadi.
Sperma bisa bertahan hingga 48 jam dalam tubuh wanita. Akibatnya, pembuahan masih mungkin terjadi bahkan apabila sel telur belum siap ketika sperma-sperma tersebut sudah berhasil mencapai saluran Fallopi.
Pustaka
Meningkatkan kesuburan untuk kehamilan alami: memperbesar peluang anda untuk hamil dengan terapi, sistem diet, dan latihan-latihan fisik sederhana
tulang keras
Pendahuluan
Semua mahluk hidup terdiri atas unit yang sangat kecil yang disebut sel. Jelasnya sel merupakan unit struktural terkecil yang melaksanakan proses yang berkaitan dengan kehidupan, misalnya mampu mengambil nutrisi, tumbuh dan berkembangbiak, bereaksi terhadap rangsangan, dan sebagainya. Awal kehidupan mammalia bertitik tolak dari embrio berbentuk sel telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa yang disebut zigot. Zigot segera berkembang melalui serangkaian pembelahan pola mitosis, sesuai dengan tahap perkembangan embrio yang disebut embriogenesis.
Selanjutnya embrio menumbuhkan kelompok sel khusus yang berbeda satu dengan lain. Kelompok sel khusus embrio, dalam proses membentuk jaringan, terlepas satu dari yang lain dengan terbentuknya bahan antar sel. Proses pembentukan jarinan dalam embriologi disebut histogenesis yang mendasari pembentukan oragan-organ tubuh (organogenesis). Jadi jaringan adalah kumpulan dari sel-sel tubuh dengan bahan antar sel yang dihasikannya. Sel-sel tubuh tersebut tidak harus sama, sedangkan bahan antar sel yang dihasilkan berupa bahan dasar (matriks) dan serabut.
Dan setiap makluk hidup yang ber sel manyak atau multi selular, dan masuk pada kerajaan hewan serta dalam kelompok vertebrata pastilah memiliki susunan tulang baik itu dari jenis unggas, mamalia, reptil, pices,maupun amphibi.Tulang termasuk dalam jaringan penyokong. Jaringan prnyokong yaitu jaringan yang memberi bentuk terhadap suatu mahluk hidup.
Fungsi tulang sendiri dalam mahluk hidup antara lain;
1. Memberikan bentuk terhadap suatu mahluk hidup.
2. Melindungi organ- organ yang penting dari makluk hidup.
3. Sebagai alat gerak pasif.
4. Sebagai penghasil sel darah merah.
Pembahasan
Tulang merupakan kumpulan sel-sel yang mengeluarkan matriks yang mengandung senyawa kapur dan fosfat. Kedua senyawa ini menyebabkan tulang menjadi keras. Osteoblast pada lakuna menjadi tidak aktif dan disebut Osteosit (sel tulang). Osteosit satu dengan lainnya dihubungkan oleh kanalikula yang mengandung sitoplasma dan pembuluh darah yang bertugas memenuhi kebutuhan nutrisi osteosit.
Umumnya penyusun tulang diseluruh tubuh manusia semuanya berasal dari material yang sama. Dari luar ke dalam secara berurutan akan dapat menemukan lapisan-lapisan :
· Periosteum
· Tulang kompak
· Tulang spongiosa
· Sumsum tulang
Periosteum
Periosteum merupakan bagian tulang berada di bagian paling luar dan berbentuk selaput tipis serta tempat menempelnya jaringan ikat, pembuluh darah dan otot-otot rangka. Periosteum sendiri banyak mengandung mengandung osteoblas. Periosteum juga berperan dalam memberikan nutrisi, pertumbuhan dan reparasi tulang rusak.
Tulang kompak
Tulang kompak pada umummya memiliki sedikit ronggadan lebih banyak mengandung matriks, zat kapur (kalsium phosfat dan kalsium karbonat) sehingga tulang menjadi padat dan kuat. Secara fisik lapisan ini memiliki tekstur yang halus dan tidak berongga sehingga tulang menjadi kuat. Tulang kompak kompak ini paling banyak terdapat pada orang dewasa karena pada anak-anak masih banyak mengandung serat. contohnya tulang kaki dan tulang tangandan tulang yang berbentuk pipa.
Tulang spongiosa
Sesuai dengan namanya tulang spongiosa memiliki banyak rongga. Rongga tersebut diisi oleh sumsum tulang. Apabila berwarna merah, berarti mengandung sel-sel darah merah misalnya pada epifisis tulang pipa. Apabila berwana kuning, berarti mengandung sel-sel lemak, misalnya pada diafisis tulang pipa. Tulang spongiosa terdiri dari kisi-kisi tipis tulang yang disebut trabekula.
Sumsum tulang
Sumsum tulang ini merupakan penghasil sel-sel arah yang ada dalam tubuh. Sumsum tulang ini berwujud seperti jelly yang kental. Sumsum tulang ini juga dilindungi oleh tulang spongiosa.dan sumsum tulang ini biasanya terdapat dalam tulang yang berbentuk pipa.
Berdasarkan jaringan penyusun dan sifat-sifat fisiknya tulang dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1.Tulang Rawan (Kartilago)
Tulang rawan adalah tulang yang tidak mengandung pembuluh darah dan saraf kecuali lapisan luarnya (perikondrium). Tulang rawan sendiri memiliki sifat lentur karena tersusun atas zan interselular yang berbentuk jelly. Akan tetapi tulang rawan ini lebih kuat di bandingkan dengan jaringan ikat biasa..
Tulang rawan terdiri dari tiga tipe yaitu:
1. Tulang rawan hialin;
tulang yang berwarna putih sedikit kebiru-biruan, mengandung serat-serat kolagen dan chondrosit. Tulang rawan hialin dapat kita temukan pada laring, trakea, bronkus, ujung-ujung tulang panjang, tulang rusuk bagian depan, cuping hidung dan rangka janin.
2.Tulang rawan elastik
Tulang rawan elastis adalah tulang yang mengandung serabut-serabut elastis. Tulang rawan elastis dapat kita temukan pada daun telinga, tuba eustachii (pada telinga) dan laring.
3.Tulang rawan fibrosa
Tulang ini mengandung banyak sekali bundel-bundel serat kolagen sehingga tulang rawan fibrosa sangat kuat dan lebih kaku. Tulang ini dapat kita temukan pada discus diantara tulang vertebrae dan pada simfisis pubis diantara dua tulang pubis.
Pada orang dewasa tulang rawan jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan anak-anak. Pada orang dewasa tulang rawan hanya ditemukan beberapa tempat, yaitu cuping hidung, cuping telinga, antar tulang rusuk (costal cartilage) dan tulang dada, sendi-sendi tulang, antar ruas tulang belakang dan pada cakra epifisis.
2.Tulang keras (Osteon)
Pembentukan tulang keras (Osteon) berawal dari kartilago (berasal dari mesenkim). Kartilago memiliki rongga yang akan terisi oleh osteoblas (sel-sel pembentuk tulang). Osteoblas membentuk osteosit (sel-sel tulang). Setiap satuan sel-sel tulang akan melingkari pembuluh darah dan serabut saraf membentuk sistem havers Matriks akan mengeluarkan kapur dan fosfor yang menyebabkan tulang menjadi keras.
Proses pengerasan tulang disebut penulangan atau osifikasi.
Proses pengerasan tulang disebut penulangan atau osifikasi.
Osifikasi atau yang disebut dengan proses pembentukan tulang telah bermula sejak umur embrio 6-7 minggu dan berlangsung sampai dewasa. Osifikasi dimulai dari sel-sel mesenkim memasuki daerah osifikasi, bila daerah tersebut banyak mengandung pembuluh darah akan membentuk osteoblas, bila tidak mengandung pembuluh darah akan membentuk kondroblas.
Pembentukan tulang rawan terjadi segera setelah terbentuk tulang rawan (kartilago). Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bagian tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium berubah menjadi osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium berubah menjadi periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bagian dalam tulang rawan di daerah diafisis yang disebut juga pusat osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) akibatnya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menyebabkan kematian pada sel-sel tulang rawan ini.
Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke daerah ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang.
Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki daerah epiphise sehingga terjadi pusat osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan dikedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise.
Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus-menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di daerah diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang didaerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada saat yang bersamaan osteoblas di periosteum membentuk lapisan-lapisan tulang baru di daerah permukaan.
Berdasarkan bentuknya tulang keras yaitu;
Tulang panjang (tulang pipa)
Tulang pipih
Tulang pendek
Tulang pneumatika
Penutup
Kesimpulan
Salah satu bagian jaringan pada hewan dan manusia jaringan tulang yang merupakan jaringan paling penting. Karena memiliki fungsi memberi bentuk terhadap tubuh induvidu itu sendiri di sisilani juga mempunyai fungsi sebagai pelindung dan alat gerak pasif pada suatu individu.
Tulang terbentuk dari zat kapur yang berbentuk kalsium fosfat dan kalsium karbonat yang mejadikan tulang itu keras. Sedangkan sel-sel yang membentuk tulang itu adalah osteostik, osteosit dan osteoblas.Lapisa- lapisan dari tulang itu sendiri yaitu Periosteum, Tulang kompak, Tulang spongiosa, dan Sumsum tulang.
Berdasarkan sifat fisiknya tulang di bedakan menjadi dua yaitu;
Tulang rawan
Tulang rawan adalah tulang yang tidak mengandung pembuluh darah dan saraf kecuali lapisan luarnya (perikondrium).
Tulang keras.
Pembentukan tulang keras (Osteon) berawal dari kartilago (berasal dari mesenkim). Kartilago memiliki rongga yang akan terisi oleh osteoblas (sel-sel pembentuk tulang).
Daftar pustaka
Artificial ,Neural Network Theory and Applications, Dan W. Patterson, John Wiley
and Sons, Inc. 1995.
Dan W. Patterson, Artificial Neural Network Theory and Applications, John Wiley
and Sons, Inc. 1995.
Kadaryanto et al. 2006. Biologi 2. Penerbit Yudhistira, Jakarta. 20.
Yatim,wilda.1992 histologi bandung
, Sri Kusumadewi, 2004, Membangun Jaringan tulang .Graha Ilmu, Yogyakarta
Rabu, 09 November 2011
Macrocytis Pyrifera
Klasifikasi Macrocytis Pyrifera;
Divisi : Phaeophyta
Kelas : Phaeophyceae
Bangsa: Laminariales
Suku : Lessoniaceae
Marga : Macrocystis
Jenis : Macrocystis pyrifera
Deskripsi
Macrocystis pyrefera adalah salah satu spesies alga yang termasuk dalam defisi phaeophyta. Macrocystis pyrefera ciri-ciri. Bentuk tubuh bertalus seperti tumbuhan tinggi, bersifat multiselular(macro alga). Hidup di air laut terutama yang dingin dengan kedalaman 10-30m, dan beberapa hidup di air tawar, melekat pada batu-batuan dengan alat pelekat (semacam akar = hold fast). Spesies ini juga disebut rumput laut yang memiliki gelembung udara sebagai pelampung. Kromotor memiliki butir-butir fokusan sebagai sisa dari hasil metabolisme. Berwarna kecoklatan karena memiliki pigmen yang dominan fikosantin selain klorofil, karoten dan xantofil. Dan mengahsilkan algin (gel), memiliki Giant Kleps, menghasilkan sporangium, bila berkumpul menjadi satu disebut sorus
Macrocystis pyrifera yang hidup di daerah kutub selatan. Talusnya dapat mencapai panjang 60 m dengan berat sampai 100 kg. alat pelekatnya seakan-akan mempunyai kuku untuk berpegangan erat-erat. Sumbu talus bebas, mempunyai cabang-cabang talus berbentuk lembaran yang bergantungan, kadang-kadang sampai 3 m panjangnya hingga dengan itu talus dapat terapung pada permukaan laut.
Reproduksi
Reproduksi macrocytis pyrifera dibagi menjadi dua yaitu; reproduksi secara vegetatif dengan fragmentasi, Zoospora dan aplanospora tanpa dinding dan Propagula yang merupakan cabang khusus dari talus yang mudah patah, sedangkan reproduksi secara generatif dengan anisogami, isogami dan oogami.
Manfaat
1. sebagai penghasil iodium untuk mengobati penyakit gondok,
2. sebagai bahan makanan suplemen yang kaya unsur nitrogen, natrium, fosfor, dan kalsium.
3. untuk memberi makan kerang abalone.
4. sebagai makanan suplemen hewan ternak.
5. menghasilkan asam alginat sebagai pengental produk makanan, industri dan kosmetik.
Daftar Pustaka
B.P.E.N. 1978. Rumput laut. Badan pengembangan Ekspor Nasional. Departemen Perdagangan dan Koperasi. 21 hlm.
Dit. Jen Perikanan 1985. Statistik Perikanan Indonesia 1983. Direktorat Jendral Perikanan, Departemen Pertanian Jakarta. 97 hlm.
McHugh, D.J. and B.V. Lanier 1983. The World Seaweed Industry and Trade, South China Sea Fisheries Development and Coordinating Programme Food Agriculture Organization of the United Nation, Manila. ADB/FAO Market Studies Vol. 6 : 30 hlm.
Porse, H. 1985. Makalah Diskusi Panel Pengembangan Industri Pengolahan rumput laut di Indonesia Jakarta 26 Februari 1985.
Saleh, S. 1985. Kegunaan Rumput Laut dan aspek pemasarannya. Makalah pada Diskusi Panel Pengembangan Industri Pengolahan Rumput Laut di Indonesia, Jakarta 26 Februari 1985 : 15 hlm.
Soegiarto. A., Sulistijo, W.S. Atmadja, H. Mubarak 1978. Rumput Laut (algae) Manfaat, Potensi dan Usaha Budidayannya. LON - LIPI Jakarta : 61 hlm.
Soegiarto, A dan Sulistijo. 1985. Produksi dan Budidaya Rumput Laut di Indonesia. Makalah pada Diskusi Panel Pengembangan Industri pengolahan rumput laut di Indonesia, Jakarta 26 Feb. 1985.
Langganan:
Postingan (Atom)