SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI SEMOGA BERMANFAAT BAGI ANDA TERIMAKASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG KAMI

Jumat, 06 April 2012


KERANGKA TULANG BURUNG -

Rabu, 04 April 2012

materi kuliah
Senin, 07 November 2011
ANATOMI FISIOLOGI SISTEM REPRODUKSI PRIA DAN WANITA
ANATOMI FISIOLOGI SISTEM REPRODUKSI PRIA DAN WANITA

A. Latar Belakang
Sistem reproduksi adalah sistem yang berfungsi untuk berkembang biak. Terdiri dari testis, ovarium dan bagian alat kelamin lainnya
Reproduksi atau perkembangbiakan merupakan bagian dari ilmu faal(fisiologi). Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun siklus reproduksi suatu manusia berhenti, manusia tersebut masih dapat bertahan hidup, sebagai contoh manusia yang dilakukan vasektomi pada organ reproduksinya (testes atau ovarium) atau mencapai menopause dan andropouse tidak akan mati. Pada umumnya reproduksi baru dapat berlangsung setelah manusia tersebut mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh manusia.
Reproduksi juga merupakan bagian dari proses tubuh yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan suatu generasi.
Untuk kehidupan makhluk hidup reproduksi tidak bersifat vital artinya tanpa adanya proses reproduksi makhluk hidup tidak mati. Akan tetapi bila makhluk tidup tidak dapat bereproduksi maka kelangsungan generasi makhluk hidup tersebut terancam dan punah, karena tidak dapat dihasilkan keturunan (anak) yang merupakan sarana untuk melanjutkan generasi.


B. Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui anatomi sistem reproduksi pria dan wanita
2. Mahasiswa mengetahui fisiologi organ reproduksi pria dan wanita
3. Mahasiswa mengetahui hormon-hormon yang bekerja pada sistem reproduksi
4. Mahasiswa mengetahui perkembangan sperma
5. Mahasiswa mengetahui siklus menstruasi..

C. Rumusan masalah
1. Bagaimana anatomi sistem reproduksi pria ?
2. Bagaimana fisiologi sistem reproduksi pria?
3. Apa saja hormon yang bekerjapada sistem reproduksi ?
4. Bagaimanakah siklus menstruasi terjadi?
5. Bagaimanakah terjadinya spermatogenesis ?

SISTEM REPRODUKSI PRIA

A. Anatomi Sistem Reproduksi Pria
1. Struktur luar dari sistem reproduksi pria terdiri dari : penis, skrotum (kantung zakar) dan testis (buah zakar).
1) Penis
Penis terdiri dari:
- Akar (menempel pada didnding perut)
- Badan (merupakan bagian tengah dari penis)
- Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).
Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di umung glans penis. Dasar glans penis disebut korona. Pada pria yang tidak disunat (sirkumsisi), kulit depan (preputium) membentang mulai dari korona menutupi glans penis.
Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris (sinus) jaringan erektil:
- 2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak bersebelahan.
- Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra. Jika rongga tersebut terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami ereksi).
2) Skrotum
Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan melindungi testis.
Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh.
Otot kremaster pada dinding skrotum akan mengendur atau mengencang sehinnga testis menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi lebih dingin) atau lebih dekat ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih hangat).

3) Testis
Testis berbentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan terletak di dalam skrotum. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan.
Testis menghasilkan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH) juga hormon testosterone.
Fungsi testis, terdiri dari :
a) Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa, dilakukan di Tubulus seminiferus.
b) Menghasilkan hormon testosteron, dilakukan oleh sel interstial.
Testis memiliki 2 fungsi, yaitu:
Pembentukan sperma oleh tubulus seminiferus.
Pembentukan hormone testoteron oleh sel leydig
2. Struktur dalamnya terdiri dari : vas deferens, uretra, kelenjar prostat dan vesikula seminalis.Alat kelamin laki-laki terbagi atas 3 bagian :
1) Vas deferens
Vas deferens merupakan saluran yang membawa sperma dari epididimis. Saluran ini berjalan ke bagian belakang prostat lalu masuk ke dalam uretra dan membentuk duktus ejakulatorius. Struktur lainnya (misalnya pembuluh darah dan saraf) berjalan bersama-sama vas deferens dan membentuk korda spermatika.
2) Uretra
Uretra berfungsi 2 fungsi:
- Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari kandung kemih
- Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.
3) Kelenjar Prostat
Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih di dalam pinggul dan mengelilingi bagian tengah dari uretra. Biasanya ukurannya sebesar walnut dan akan membesar sejalan dengan pertambahan usia.
Prostat mengeluarkan sekeret cairan yang bercampur secret dari testis, perbesaran prostate akan membendung uretra dan menyebabkan retensi urin. Kelenjar prostat, merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 30-50 kelenjar yang terbagi atas 4 lobus yaitu:
Lobus posterior
Lobus lateral
Lobus anterior
Lobus medial
Fungsi Prostat:
Menambah cairan alkalis pada cairan seminalis yang berguna untuk menlindungi spermatozoa terhadap sifat asam yang terapat pada uretra dan vagina.
Di bawah kelenjar ini terdapat Kelenjar Bulbo Uretralis yang memilki panjang 2-5 cm. fungsi hampir sama dengan kelenjar prostat.
4) Vesikula seminalis.
Prostat dan vesikula seminalis menghasilkan cairan yang merupakan sumber makanan bagi sperma. Cairan ini merupakan bagian terbesar dari semen. Cairan lainnya yang membentuk semen berasal dari vas deferens dan dari kelenjar lendir di dalam kepala penis.
Fungsi Vesika seminalis :
Mensekresi cairan basa yang mengandung nutrisi yang membentuk sebagian besar cairan semen

3. Duktus Duktuli
1) Epididimis
Merupakan saluran halus yang panjangnya ± 6 cm terletak sepanjang atas tepi dan belakang dari testis. Epididimis terdiri dari kepala yang terletak di atas katup kutup testis, badan dan ekor epididimis sebagian ditutupi oleh lapisan visceral, lapisan ini pada mediastinum menjadi lapisan parietal.
Saluran epididimis dikelilingi oleh jaringan ikat, spermatozoa melalui duktuli eferentis merupakan bagian dari kaput (kepala) epididimis. Duktus eferentis panjangnya ± 20 cm, berbelok-belok dan membentuk kerucut kecil dan bermuara di duktus epididimis tempat spermatozoa disimpan, masuk ke dalam vas deferens
Fungsi dari epididimis yaitu sebagai saluran penhantar testis, mengatur sperma sebelum di ejakulasi, dan memproduksi semen.

2) Duktus Deferens
Merupakan kelanjutan dari epididimis ke kanalis inguinalis, kemudian duktus ini berjalan masuk ke dalam rongga perut terus ke kandung kemih, di belakang kandung kemih akhirnya bergabung dengan saluran vesika seminalis dan selanjtnya membentuk ejakulatorius dan bermuara di prostate. Panjang duktus deferens 50-60 cm.
3) Uretra.
4. Bangunan Penyokong atau Penyambung
1). Funikulus Spermatikus
Bagian penyambung yang berisi duktus seminalis, pembuluh limfe, dan serabut-serabut saraf.

B. Fisiologi Sistem Reproduksi Pria
1. Hormon pada Laki-laki
a. FSH
Menstimulir spematogenesis.
b. LH
Menstimulir Sel Interstitiil Leydig untuk memproduksi Testosteron.
c. Testosteron
Bertanggung jawab dalam perubahan fisik laki-laki terutama organ seks sekundernya.
Efek hormon testoteron pada pria:
Sebelum lahir:
a. Maskulinasi saluran reproduksi dan genital eksterna
b. Mendorong penurunan testis ke skrotum
Efek reproduksi
c. Pertumbuhan dan pematangan organ reproduksi
d. Penting dalam spermatogenesis
Pertumbuhan tanda kelamin sekunde
2. Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah perkembangan spermatogonia menjadi spermatozoa. Berlangsung 64 hari. Spermatogonia berkembang menjadi spermatozit primer. Spermatozit primer menjadi spermatozit sekunder.
Spermatozit sekunder berkembang menjadi spermatid. Tahap akhir spermatogenesis adalah pematangan spermatid menjadi spermatozoa. Ukuran spermatozoa adalah 60 mikron. Spermatozoa terdiri dari kepala, badan dan ekor.
C. Anatomi Sistem Reproduksi Wanita
1. Genetalia Eksterna (vulva)
Yang terdiri dari:
1) Tundun (Mons veneris)
Bagian yang menonjol meliputi simfisis yang terdiri dari jaringan dan lemak, area ini mulai ditumbuhi bulu (pubis hair) pada masa pubertas. Bagian yang dilapisi lemak, terletak di atas simfisis pubis
2) Labia Mayora
Merupakan kelanjutan dari mons veneris, berbentuk lonjong. Kedua bibir ini bertemu di bagian bawah dan membentuk perineum. Labia mayora bagian luar tertutp rambut, yang merupakan kelanjutan dari rambut pada mons veneris. Labia mayora bagian dalam tanpa rambut, merupakan selaput yang mengandung kelenjar sebasea (lemak). Ukuran labia mayora pada wanita dewasa à panjang 7- 8 cm, lebar 2 – 3 cm, tebal 1 – 1,5 cm. Pada anak-anak dan nullipara à kedua labia mayora sangat berdekatan.
3) Labia Minora
Bibir kecil yang merupakan lipatan bagian dalam bibir besar (labia mayora), tanpa rambut. Setiap labia minora terdiri dari suatu jaringan tipis yang lembab dan berwarna kemerahan;Bagian atas labia minora akan bersatu membentuk preputium dan frenulum clitoridis, sementara bagian. Di Bibir kecil ini mengeliligi orifisium vagina bawahnya akan bersatu membentuk fourchette
4) Klitoris
Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat erektil. Glans clitoridis mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf sensoris sehingga sangat sensitif. Analog dengan penis pada laki-laki. Terdiri dari glans, corpus dan 2 buah crura, dengan panjang rata-rata tidak melebihi 2 cm.
5) Vestibulum (serambi)
Merupakan rongga yang berada di antara bibir kecil (labia minora). Pada vestibula terdapat 6 buah lubang, yaitu orifisium urethra eksterna, introitus vagina, 2 buah muara kelenjar Bartholini, dan 2 buah muara kelenjar paraurethral. Kelenjar bartholini berfungsi untuk mensekresikan cairan mukoid ketika terjadi rangsangan seksual. Kelenjar bartholini juga menghalangi masuknya bakteri Neisseria gonorhoeae maupun bakteri-bakteri patogen
6) Himen (selaput dara)
Terdiri dari jaringan ikat kolagen dan elastic. Lapisan tipis ini yang menutupi sabagian besar dari liang senggama, di tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar. Bentuk dari himen dari masing-masing wanita berbeda-beda, ada yang berbentuk seperti bulan sabit, konsistensi ada yang kaku dan ada lunak, lubangnya ada yang seujung jari, ada yang dapat dilalui satu jari. Saat melakukan koitus pertama sekali dapat terjadi robekan, biasanya pada bagian posterior
7) Perineum (kerampang)
Terletak di antara vulva dan anus, panjangnya kurang lebih 4 cm. Dibatasi oleh otot-otot muskulus levator ani dan muskulus coccygeus. Otot-otot berfungsi untuk menjaga kerja dari sphincter ani
2. Genetalia Interna
1). Vagina
Merupakan saluran muskulo-membraneus yang menghubungkan rahim dengan vulva. Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus sfingter ani dan muskulus levator ani, oleh karena itu dapat dikendalikan.
Vagina terletak antara kandung kemih dan rektum. Panjang bagian depannya sekitar 9 cm dan dinding belakangnya sekitar 11 cm.
Bagian serviks yang menonjol ke dalam vagina disebut portio. Portio uteri membagi puncak (ujung) vagina menjadi:
-Forniks anterior -Forniks dekstra
-Forniks posterior -Forniks sisistra
Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan asam susu dengan pH 4,5. keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi.
Fungsi utama vagina:
1) Saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah menstruasi.
2) Alat hubungan seks.
3) Jalan lahir pada waktu persalinan.


2). Uterus
Merupakan Jaringan otot yang kuat, terletak di pelvis minor diantara kandung kemih dan rektum. Dinding belakang dan depan dan bagian atas tertutup peritonium, sedangkan bagian bawah berhubungan dengan kandung kemih.Vaskularisasi uterus berasal dari arteri uterina yang merupakan cabang utama dari arteri illiaka interna (arterihipogastrika interna).
Bentuk uterus seperti bola lampu dan gepeng.
1) Korpus uteri : berbentuk segitiga
2) Serviks uteri : berbentuk silinder
3) Fundus uteri : bagian korpus uteri yang terletak diatas kedua pangkal tuba.
Untuk mempertahankan posisinya, uterus disangga beberapa ligamentum, jaringan ikat dan parametrium. Ukuran uterus tergantung dari usia wanita dan paritas. Ukuran anak-anak 2-3 cm, nullipara 6-8 cm, multipara 8-9 cm dan > 80 gram pada wanita hamil. Uterus dapat menahan beban hingga 5 liter
Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan :
a) Peritonium
Meliputi dinding rahim bagian luar. Menutupi bagian luar uterus. Merupakan penebalan yang diisi jaringan ikat dan pembuluh darah limfe dan urat syaraf. Peritoneum meliputi tuba dan mencapai dinding abdomen.

b) Lapisan otot
Susunan otot rahim terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan luar, lapisan tengah, dan lapisan dalam. Pada lapisan tengah membentuk lapisan tebal anyaman serabut otot rahim. Lapisan tengah ditembus oleh pembuluh darah arteri dan vena. Lengkungan serabut otot ini membentuk angka delapan sehingga saat terjadi kontraksi pembuluh darah terjepit rapat, dengan demikian pendarahan dapat terhenti.
Makin kearah serviks, otot rahim makin berkurang, dan jaringan ikatnya bertambah. Bagian rahim yang terletak antara osteum uteri internum anatomikum, yang merupakan batas dari kavum uteri dan kanalis servikalis dengan osteum uteri histologikum (dimana terjadi perubahan selaput lendir kavum uteri menjadi selaput lendir serviks) disebut isthmus. Isthmus uteri ini akan menjadi segmen bawah rahim dan meregang saat persalinan.

c) Endometrium
Pada endometrium terdapat lubang kecil yang merupakan muara dari kelenjar endometrium. Variasi tebal, tipisnya, dan fase pengeluaran lendir endometrium ditentukan oleh perubahan hormonal dalam siklus menstruasi. Pada saat konsepsi endometrium mengalami perubahan menjadi desidua, sehingga memungkinkan terjadi implantasi (nidasi).Lapisan epitel serviks berbentuk silindris, dan bersifat mengeluarakan cairan secara terus-menerus, sehingga dapat membasahi vagina. Kedudukan uterus dalam tulang panggul ditentukan oleh tonus otot rahim sendiri, tonus ligamentum yang menyangga, tonus otot-otot panggul. Ligamentum yang menyangga uterus adalah:
a) Ligamentum latum
• Ligamentum latum seolah-olah tergantung pada tuba fallopii.
b) Ligamentum rotundum (teres uteri)
• Terdiri dari otot polos dan jaringan ikat.
• Fungsinya menahan uterus dalam posisi antefleksi.
c) Ligamentum infundibulopelvikum
• Menggantung dinding uterus ke dinding panggul.
d) Ligamentum kardinale Machenrod
• Menghalangi pergerakan uteruske kanan dan ke kiri.
• Tempat masuknya pembuluh darah menuju uterus.
e) Ligamentum sacro-uterinum
• Merupakan penebalan dari ligamentum kardinale Machenrod menuju os.sacrum.
f) Ligamentum vesiko-uterinum
• Merupakan jaringan ikat agak longgar sehingga dapat mengikuti perkembangan uterus saat hamil dan persalinan.

3). Tuba Fallopii
Tuba fallopii merupakan tubulo-muskuler, dengan panjang 12 cm dan diameternya antara 3 sampai 8 mm. fungsi tubae sangat penting, yaiu untuk menangkap ovum yang di lepaskan saat ovulasi, sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi, tempat terjadinya konsepsi, dan tempat pertumbuhan dan perkembangan hasil konsepsi sampai mencapai bentuk blastula yang siap melakukan implantasi.

4). Ovarium
Merupakan kelenjar berbentuk buah kenari terletak kiri dan kanan uterus di bawah tuba uterina dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum uterus. Setiap bulan sebuah folikel berkembang dan sebuah ovum dilepaskan pada saat kira-kira pertengahan (hari ke-14) siklus menstruasi. Ovulasi adalah pematangan folikel de graaf dan mengeluarkan ovum. Ketika dilahirkan, wanita memiliki cadangan ovum sebanyak 100.000 buah di dalam ovariumnya, bila habis menopause.
Ovarium yang disebut juga indung telur, mempunyai 3 fungsi:
a. Memproduksi ovum
b. Memproduksi hormone estrogen
c. Memproduksi progesterone
. Memasuki pubertas yaitu sekitar usia 13-16 tahun dimulai pertumbuhan folikel primordial ovarium yang mengeluarkan hormon estrogen. Estrogen merupakan hormone terpenting pada wanita. Pengeluaran hormone ini menumbuhkan tanda seks sekunder pada wanita seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut pubis, pertumbuhan rambut ketiak, dan akhirnya terjadi pengeluaran darah menstruasi pertama yang disebut menarche.
Awal-awal menstruasi sering tidak teratur karena folikel graaf belum melepaskan ovum yang disebut ovulasi. Hal ini terjadi karena memberikan kesempatan pada estrogen untuk menumbuhkan tanda-tanda seks sekunder. Pada usia 17-18 tahun menstruasi sudah teratur dengan interval 28-30 hari yang berlangsung kurang lebih 2-3 hari disertai dengan ovulasi, sebagai kematangan organ reproduksi wanita.

D. Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita
1. Hormon Reproduksi pada wanita
1). Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan sel-sel folikel sekitar sel ovum.
2). Hormon Estrogen yang berfungsi merangsang sekresi hormone LH.
3). Hormon LH yang berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu proses pematangan sel ovum).
4). Hormon progesteron yang berfungsi untuk menghambat sekresi FSH dan LH

E. Siklus Menstruasi

Siklus mnstruasi terbagi menjad 4. wanita yang sehat dan tidak hamil, setiap bulan akan mengeluarkan darah dari alat kandungannya.
1.Stadium menstruasi (Desquamasi), dimana endometrium terlepas dari rahim dan adanya pendarahanselama 4hari.
2.Staduim prosmenstruum (regenerasi), dimana terjadi proses terbentuknya endometrium secara bertahap selama 4hr
3.Stadium intermenstruum (proliferasi), penebalan endometrium dan kelenjar tumbuhnya lebih cepat.
4.Stadium praemenstruum (sekresi), perubahan kelenjar dan adanya penimbunan glikogen guna mempersiapkan endometrium.

F. Hormon-Hormon Reproduksi
1. Estrogen
Estrogen dihasilkan oleh ovarium. Ada banyak jenis dari estrogen tapi yang paling penting untuk reproduksi adalah estradiol. Estrogen berguna untuk pembentukan ciri-ciri perkembangan seksual pada wanita yaitu pembentukan payudara, lekuk tubuh, rambut kemaluan,dll. Estrogen juga berguna pada siklus menstruasi dengan membentuk ketebalan endometrium, menjaga kualitas dan kuantitas cairan cerviks dan vagina sehingga sesuai untuk penetrasi sperma.

2. Progesterone
Hormon ini diproduksi oleh korpus luteum. Progesterone mempertahankan ketebalan endometrium sehingga dapat menerima implantasi zygot. Kadar progesterone terus dipertahankan selama trimester awal kehamilan sampai plasenta dapat membentuk hormon HCG.

3. Gonadotropin Releasing Hormone
GNRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hipotalamus diotak. GNRH akan merangsang pelepasan FSH (folikl stimulating hormone) di hipofisis. Bila kadar estrogen tinggi, maka estrogen akan memberikan umpanbalik ke hipotalamus sehingga kadar GNRH akan menjadi rendah, begitupun sebaliknya.

4. FSH (folikel stimulating hormone) dan LH (luteinizing Hormone)
Kedua hormon ini dinamakan gonadotropoin hormon yang diproduksi oleh hipofisis akibat rangsangan dari GNRH. FSH akan menyebabkan pematangan dari folikel. Dari folikel yang matang akan dikeluarkan ovum. Kemudian folikel ini akan menjadi korpus luteum dan dipertahankan untuk waktu tertentu oleh LH.

5. LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone)
Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH berfungsi memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge). Selama fase luteal siklus, LH meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi dalam menghasilkan progesteron. Pelepasannya juga periodik / pulsatif, kadarnya dalam darah bervariasi setiap fase siklus, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 1 jam). Kerja sangat cepat dan singkat.

6. HCG (Human Chorionic Gonadotrophin)
Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas (plasenta). Kadarnya makin meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu (sampai sekitar 100.000 mU/ml), kemudian turun pada trimester kedua (sekitar 1000 mU/ml), kemudian naik kembali sampai akhir trimester ketiga (sekitar 10.000 mU/ml). Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi hormon-hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Mungkin juga memiliki fungsi imunologik. Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan sebagai tanda kemungkinan adanya kehamilan (tes Galli Mainini, tes Pack, dsb).

7. LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolactin
Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu / meningkatkan produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum. Pada kehamilan, prolaktin juga

A.Kesimpulan
Sistem reproduksi pria dan wanita berbeda. Pada reproduksi pria memiliki penis dan kelenjar testis untuk menghasilkan sperma, kematangan sel sperma di tandai dengan mimpi basah pada usia pubertas Pada system reproduksi wanita memiliki vagina dan ovarium untuk menghasilkan ovum. Kematangan sel telur atu ovum ditandai menarche pada usia antara 13-16 tahun. Apabila terjadi pertemuan antara sel sperma dan sel ovum akan terjadi kehamilan yang akan berkembang menjadi janin.

B.Saran
Pengetahuan mengenai seks & seksualitas hendaknya dimiliki oleh semua orang. Dengan pengetahuan yang dimiliki diharapkan orang tersebut akan dapat menjaga alat reproduksinya untuk tidak digunakan secar bebas tanpa mengatahui dampaknya, Pengetahuan yang diberikan harus mudah dipahami, tepat sasaran, dan tidak menyesatkan. Dengan demikian orang tersebut akan dapat menghadapi rangsangan dari luar dengan cara yang sehat, matang dan bertanggung jawab.
Diposkan oleh Firm@ntblog di 1:11:00 PM
Label: AnfisReproduksi

Selasa, 03 April 2012

LAPORAN PRAKTIKUMSTRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN I


 

TATA LETAK DAUN PADA BATANG

(Phyllotaxis atau Dispositio Foliorum)


 

Dosen Pembimbing:

Evika Sandi Savitri, M.P


 

Oleh:

Ahmad coirul m.

(10620027)


 


 


 


 



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2009


 


 

BAB I

PENDAHULUAN


 

1.1 Latar Belakang

Bukanlah hal sulit untuk menemukan bagian tanaman khususnya daun. Daun atau bagian dari daun sering ditemukan dalam berbagai bentuk. Banyaknya macam bentuk dan modifikasinya itu menjadi pemikiran bagi botanis untuk membuat penamaan yang tepat dengan kaidah yang diciptakan oleh botanis, tetapi juga tidak meninggalkan kaidah umum yang dianut oleh masyarakat, sehingga dari deskripsinya dapat dikenal bentuk atau organ lain. Daun merupakan suatu organ tubuh tumbuhan yang amat penting dan pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tumbuhan (Sebastian, 2008).

Maka dengan adanya praktikum ini,kita semakin paham dan dapat lebih mengenal macam-macam duduk daun (phyllotaxia) dan diagram duduk daun. Selain itu kita juga dapat mengerti tentang tata letak daun pada batang (dispositio
foliorum).


 

  1. Tujuan

    Tujuan dari praktikum kali ini adalah mengenal macam-macam duduk daun (phyllotaxia) dan diagram duduk daun.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN


 


 

Keterangan :

1. Berapa jumlah daun pada setiap buku-bukunya

2. Rumus daun

3. Sudut divergensi

4. Diagram


 

  1. Pembahasan
    1. Daun Asoka (Ixora hybrida)

      Menurut pengamatan yang telah kami lakukan pada praktikum kemarin hasil dari daun asoka (Ixora hybrida) adalah termasuk daun berhadapan bersilang (folio opposite), tidak mempunyai rumus daun dan sudut divergensi.

      Di habitat alam, tanaman soka tumbuh sebagai tanaman perdu tahanan (perennial). Susunan tubuh terdiri atas akar, batang, cabang, daun, bunga, dan biji. Tanaman soka mempunyai akar tunggang yang dalam akar cabang serta akar rambut yang menyebar ke semua arah. Hal ini memperkokoh tubuh tanaman dan permukaan tanah. Daya jangkau perakaran dapat mencapai ke dalam 100 cm/lebih. Tetapi umumnya menyebar pada lapisan oleh tanah sedalam 30-40cm. Batang tanaman soka berukuran keras dan lentur serta tumbuh tegak mencapai ketinggian 3m/lebih. Akan tetapi, ada pula tanaman dengan ketinggian 30-70cm,yang disebut soka ini. Percabangannya tumbuh rapat dan banyak, sejak ketinggian 5cm dari permukaan tanah hingga kebagian ujung tanaman.bentuk daun soka umunya lonjong dan lebar, tetapi beberapa jenis atau spesies soka berdaun kecil dan bentuknya keriting. Letak daun berpasangan, baik pada tiap percabangan maupun ranting. Daun umumnya berwarna hijau kekuning-kuningan (variegata) (Rukmana, 1997).


       

    2. Daun Sepatu (Hibiscus rosasinensis)

      Menurut pengamatan yang telah kami lakukan pada praktikum kemarin hasil dari daun sepatu (Hibiscus rosasinensis) adalah termasuk daun tersebar (folio sparsa), mempunyai rumus daun 2/5 dan sudut divergensi 1440

      Di habitat alam, tanaman sepatu tumbuh sebagai tanaman perdu tahanan (perennial). Susunan tubuh terdiri atas akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Tanaman sepatu ini memumpunyai akar tunggang coklat muda. Batangnya bulat, berkayu, keras ,berdiameter kurang lebih 9cm. Daunya tunggal, tepi beringgit, ujungnya runcing, pangkal tumpul, panjang 10-16cm dan lebarnya 5-11cm berwarna hijau muda dan hijau. Bunganya berbentuk terompet, diketiak daun bewarna hijau kekuning-kuningan, mahkota terdiri dari 15-20 daun mahkota, berwarna merah muda. Buahnya kecil lonjong berdiameter kurang lebih 4 meter masih muda berwarna putih setelah tua berwarna coklat. Bijinya pipih dan putih (Sebastian, 2008).

      Daun, bunga dan akar kembang sepatu (Hibicus rosasinensis) mengandung flavoinida, disamping itu daunnya mengandung sponin dan polifenal. Daun ini berkhasiat sebagai obat demam pada anak, obat batuk dan obat sariawan (Muzayyinah, 2008).


       


       


       

    3. Daun Bugenvil (Bougenvillia spectabilis)

      Menurut pengamatan yang telah kami lakukan pada praktikum kemarin hasil dari daun
      bugenvil (Bougenvillia spectabilis) adalah termasuk daun tersebar (folio sparsa), mempunyai rumus daun 2/5 dan sudut divergensi 1440

      Bugenvil termasuk suku kampah-kampahan atau family Nyctaginaceae. Tanaman ini hidupnya tahan (perennial) berbentuk perdu dan bersifat merambat (memanjat) maupun tegak (Rukmana, 1997).

      Struktur batang merupakan pohon berkayu keras penampangya bulat,bercabang dan beranting banyak. Sehingga bila tanaman ini dibiarkan tumbuh alami dapat mencapai ketinggian 15 meter.pada bagian batang cabang atatupun ranting terdapat duri-duri (spina) yang bentuknya "kait" sebagai alat pemanjat. Daun-daun tumbuh rimbun serta tunggal.bentuknya mirip jantung hati yang dasarnya agak bulat (bundar) dengan warna hijau tua namun, ada pula yang belang-belang (variegata) antara hijau dan putih bercampur kekuning-kuningan. Hal ini yang menarik dari tanaman bugenvil adalah karakteristik bunganya.yaitu bunga asli dan palsu (bractea) (Gembong, 1997).


 

  1. Daun Lengkuas
    (Alpina galanga)

    Menurut pengamatan yang telah kami lakukan pada praktikum kemarin hasil dari daun
    lengkuas (Alpina galanga) adalah termasuk daun tersebar (folio opposite), mempunyai rumus daun 1/2 dan sudut divergensi 1800


 

  1. Daun Alamanda (Allamanda catharica L)

    Menurut pengamatan yang telah kami lakukan pada praktikum kemarin hasil dari daun
    alamanda (Allamanda catharica L) adalah termasuk daun berkarang (folio verticillata), mempunyai rumus daun 2/4 dan sudut divergensi 1440

    Struktur batang merupakan pohon berkayu keras penampangya bulat, bercabang dan beranting banyak. Sehingga bila tanaman. Ini dibiarkan tumbuh alami dapat mencapai ketinggian 15 meter. Pada bagian batang cabang ataupun ranting terdapat duri-duri (spina) yang bentuknya "kait" sebagai alat pemanjat. Daun-daun tumbuh rimbun serta tunggal. Bentuknya mirip jantung hati yang dasarnya agak bulat (bundar) dengan warna hijau tua namun, ada pula yang belang-belang (variegata) antara hijau dan putih bercampur kekuning-kuningan. Hal ini yang menarik dari tanaman alamanda adalah karakteristik bunganya yaitu bunga asli dan palsu (bractea) (Rukmana, 1995).


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB IV

KESIMPULAN

Dari hasil praktikum yang kami lakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Pada tanaman asoka
    (Ixora hybrida), jumlah daun pada setiap buku-bukunya berhadapan bersilang (folio opposite atau folio decussata). Susunan tubuh tanaman terdiri atas akar (radix), batang (Caulis), cabang, daun (folio), bunga (flos), dan biji. Tidak mempunyai rumus daun dan sudut divergensi.
  2. Pada tanaman sepatu (Hibicus rosasinensis) jumlah daun pada setiap buku- buku tersebar (folio sparsa) susunan tubuh tanaman terdiri dari akar (radix), batang (Caulis), daun (folio), bunga (flos), buah, dan biji. Mempunyai rumus daun 2/5 dan sudut divergensi 1440
  3. Pada tanaman bugenvil (Bougenvillea spectabillis) jumlah daun pada setiap buku-buku berkarang (folio verticillata), susunan tubuh tanaman terdiri atas akar (radix), batang (Coulis), ranting, cabang, daun (folio), dan bunga (flos). Mempunyai rumus daun 2/5 dan sudut divergensi 1440
  4. Pada tanaman lengkuas (Alpina galanga) jumlah daun pada buku-buku berhadapan bersilang (folio opposite atau folio decussata), susunan tubuh tanaman terdiri dari akar (radix), batang (Coulis), daun (folio) dan bunga (flos). Mempunyai rumus daun 1/2 dan sudut divergensi 1800
  5. Pada tanaman alamanda (Allamanda cathartica L) jumlah daun pada setiap buku-buku berkarang (folio verticillata), susunan tubuh tanaman terdiri atas akar (radix), batang (Coulis), ranting, cabang, daun (folio), dan bunga (flos). Mempunyai rumus daun 2/4 dan sudut divergensi 1440


 


 


 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2008. Tanaman obat Indonesia. http//www. multyply. com. Di akses

Tanggal 22 Desenber 2008.


 

Gembong, Tjitrosoepomo. 1997. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gajah Mada

University Press


 

Muzayyinah. 2008. Terminologi Tumbuhan.Surakarta : UNS Press.


 

Permadi, Adi. 2006. Tanaman Obat Pelancar Air Seni. Jakarta : Swadaya.


 

Rukmana, Rahmat. 1995. Kembang Bugenvil. Yogyakart : Kanesus


 

Rukmana, Rahmat. 997. Kembang Soka. Yogyakarta : Kanesus


 

Sebastian. 2008. Kembang Sepatu. Jakart : Word Press.


 

Sabtu, 31 Maret 2012

Taksonomi Modern pada Tumbuhan

    June 2nd, 2011

Pembagian taksonomi tumbuhan dimulai untuk mengetahui hubungan kekerabatan dalam genus dan family. Banyak pertanyaan muncul, yang mana tanaman yang maju dan yang terbelakang? Tanaman mana yang merupakan tanaman yang origin? Hal ini membuat para taksonom terus meneliti lebih jauh pada struktur dalam tanaman dan lebih memperdalam pada struktur kromosom, rangkaian DNA dan struktur genom. Ini disebut dengan taksonomi molekuler. Selanjutnya akan dipelajari pembagian taksonomi dan sistematik tumbuhan.

1. Morphology

Morfologi tanaman meliputi aspek: mikromorfologi untuk embriologi, palynology, bibit, semai, buah, cabang dan anatomi daun, sekresi kutikula. Melalui karakteristik morfologi dapat diketahui beberapa perlakuan tanaman.


 

2. Morfologi vegetative

Morfologi vegetatif harus melalui tahap demi tahap untuk identifikasi. Sehingga mengabaikan karakter vegetative adalah kesalahan yang besar dalam sejarah klasifikasi dan memperlambat pengerjaan dalam system alam. White mengungkapakan alasan jika karakter vegetative itu sangat penting sebagai contoh menurut Taia, daun Papilionideae terbagi dalam 7 kategori berdasarkan tipe trikoma, akhirnya Taia menemukan hanya ada 5 tipe daun morfologi menurut suku Trifolieae.


 

3. Morfologi dan anatomi bunga

Banyak perkembangan yang terjadi pada ilmu yang mempelajari tentang pembungaan. Dickison mempelajari anatomi bunga beberapa family tumbuhan. Endress mempelajari evolusi bunga angiosperma tropis dan keanekaragamannya. Erbar dan Leins menyatakan sebagian besar anatomi bunga adalah simpetal. Nectar, morfologi dan ontogeny androecium, pembuluh pada bunga juga dijadikan pembagian klasifikasi


 

4. Pembungaan

Pada bidang ini sangat berkembang pesat dengan adanya mikroskop resolusi tinggi dan mikroskop electron. Pada pembungaan pembagian klasifikasi lebih spesifik pada tipe polen dan mikroskopis polen. Dalam pengamatan pollen karakteristik yang digunakan seperti struktur dan ornamentasi dari polaritas dinding, simetri, ukuran bentuk, dan lubang dalam urutan filogenetik.


 

5. Embriologi

Embriologi dalam dua puluh tahun terakhir, investigasi banyak dari dicotyledons embriologi telah paling membantu dalam penempatan yang tepat dari berbagai taksa. penggunaan jumlah integumen, kulit biji dan jenis nucellus dalam filogeni dari dicotyledons telah diusulkan oleh banyak penulis. gambar pemupukan ganda oleh Friedman dan dia melanjutkan pencarian dengan williams rekannya, karena pertama kali berevolusi di satu nenek moyang ke gnetophytes dan angiosperma. produk pemupukan kedua adalah diploid dan menghasilkan embrio supernum erary. evolusi berikutnya mengarah pada pembentukan endosperma, embrio-bergizi nuklir dan delapan kantung nukleasi embrio.


 

6. Morfologi biji dan buah

Barthlott telah memberikan perhitungan benih dan kecil morfologi buah-buahan sebagai alat penting dalam taksonomi tanaman, terutama setelah penemuan mikroskop transmisi yang openened pandangan baru dalam penelitian ini. investigasi baru dalam penelitian ini adalah dari Chuang dan Ornduff pada benih Menyanthacea; Noorman Setten dan Kock-Noorman pada buah dan biji Annonaceae.


 

7. Karyomorphology

Seperti sekarang didefinisikan, karyomorphology melibatkan lebih dari sekedar jumlah kromosom di sebuah pabrik tertentu, tetapi juga melibatkan ukuran, morfologi dan anatomi internal. alat ini taksonomi dianggap sebagai salah satu cara yang paling penting dalam banyak batasan taksa. greilhubber menunjuk perlunya menggunakan karyomorphology dan bandeng kromosom pada taksonomi.


 

8. Anatomi

struktur internal tanaman telah menambahkan banyak dalam memahami hubungan antara taksa tersebut. organisasi sistem pembuluh darah di batang dan daun, tangkai daun dan anatomi nodal, pembuluh darah daun dan arsitektur dan studi epidemal dianggap karakter penting dalam philogeny dan taxonomi. Anatomi batang memegang peranan yang penting dalam mengidentifikasi suatu spesies. Karena ada beberapa klasifikasi tumbuhan didasarkan pada perbedaan struktut anatomi batang. Terutama pada anatomi batang terdapat sistem pembuluh yang dapat menjadi ciri khas pembeda antara satu taksa dengan taksa yang lain.


 

9. Studi kemotaksonomi dan serologi

Pada masing-masing tumbuhan dapat menunjukkan bahwa masing-masing famili mempunyai kandungan fitokimia yang berbeda-beda pada jaringannya. Sehingga perbedaan ini dapat juga digunakan sebagai salah satu dasar untuk mengklasifikasikan suatu tumbuhan (membantu dalam mengembangkan dasar-dasar pembeda taksonomi).


 

10. Paleobotani

Ini sangat berhubungan erat dengan fosil. Dari fosil-fosil tumbuhan yang ditemukan akan dapat diprediksi kapan suatu tanaman itu muncul dan kapan suatu tanaman itu punah. Dengan begitu akan dapat diketahui bahwa spesies ini berasal dari jaman apa dan dari nenek moyang tumbuhan yang mana. Hal tersebut akan sangat membantu dalam menyusun klasifikasi suatu tanaman (membantu dalam taksonomi).


 

11. Filogeni

filogeni dalam penerapannya mengacu pada data yang diperoleh dari ahli paleobotani untuk menemukan hubungan kekerabatan di antara tanaman. Studi akan filogeni tanaman telah dimulai oleh Darwin, tapi kami perlu menyebutkan point pentingnya, sekarang di lapangan. Di antara kebanyakan buku yang menginformasikan tentang filogeni dikotiledon antara lain adalah buku: Carnivorous plants: Phylogeny and evolution oleh Albert et al., Vascular Plant Families and Genera, oleh Brummi.


 

12. Molekul biologi

Perubahan terbesar dalam klasifikasi tanaman terjadi karena hasil sangat informatif yang dihasilkan oleh ahli taksonomi molekuler melalui analisis data sekuens DNA dari gen kloroplas rbcL. Selain itu, data yang diperoleh dari analisis kloroplas restiction dari mengulang terbalik dan urutan rRNA nuklir. Data ini bersama-sama dengan data morfologi dan lainnya dari alat-alat lain taksonomi telah membuat perubahan besar dalam dunia taksonomi.


 

13. Keanekaragaman dan adptation

oleh dua puluh tahun terakhir, banyak perhatian di seluruh dunia mengenai hilangnya keanekaragaman hayati. mereka kembali kehilangan ini terhadap perubahan ekosistem. Keragaman spesies yang ditemukan dalam sumber utama keanekaragaman hayati di tingkat yang lebih tinggi. Variasi genetik, struktur populasi penduduk yang dinamis dan genetik semua bersama-sama membentuk dan mempengaruhi cara berinteraksi dengan envionmentand spesies dengan spesies lainnya. Adaptasi berarti kemampuan organisme untuk mengatasi perubahan lingkungan. Untuk mengukur adaptasi, ada istilah yang digunakan disebut Kunci Adaptasi (KA) atau Kunci Inovasi (KI) mengacu pada usaha selama 50 tahun terakhir untuk berhubungan pola perubahan evolusioner dan diversication munculnya sifat-sifat tertentu.


 

14. Ecotaxonomy

Kemampuan tanaman untuk menghasilkan fenotip berbeda di bawah kondisi lingkungan yang berbeda yang kami sebut plastisitas fenotipik telah menjadi objek studi evolusi dan ekologi sejak lama. Pligliucci mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, dialog baru antara ahli biologi organisme dan peneliti yang tertarik dalam mengungkap rincian mekanistik tanggapan fisiologis dan fenotipik telah menghasilkan beberapa wawasan baru.


 

15. Analisis Caldistic

Telah terjadi peningkatan penggunan komputer untuk penyimpanan data dan analisis selama dua puluh tahun terakhir. Data yang berasal dari semua alat penyelidikan taksonomi harus dianalisis secara matematis dan pohon cladistic harus darwn. Burger telah menulis kritik kuat dari cladistics Hennigian yang begitu mendominasi taksonomi modern. Meskipun kritik dari menggunakan analisis cladistic di taksonomi, metode cladistic telah menjadi alat teknis yang paling berguna untuk menjelaskan hubungan intrafamilial.


 

16. Hubungan Host-parasit

Thorne telah menunjuk ke neccesity menggunakan hubungan host-tanaman dan predator atau parasit dalam filogeni. Ackery mempelajari hostplants dari kupu-kupu nymphalid dan pemanfaatan hostplant oleh kupu-kupu Afrika dan Australia. Nickrent menyimpulkan parasitisme yang timbul secara independen di masing-masing sepuluh kali yaitu keluarga parasit setiap keluarga monophylatic. Dia menemukan urutan DNA dan data molekuler menjawab pertanyaan lama berdiri di filogeni tumbuhan parasit.

Taksonomi modern mempunyai dua pendekatan yaitu taksonomi klasikal dan eksperimental. Taksonomi klasikal menggunakan karakter morfologi sedangkan taksonomi eksperimental menggunakan metode lebih luas termasuk kimia, fisika dan matematika. Taksonomi klasik adalah suatu pengelompokan tumbuhan berdasarkan sifat-sifat makro yang menarik, selanjutnya dicari persamaan dan perbedaannya, lalu dikelompokkan dan diberi nama berdasarkan aturan internasional yang telah disepakati. Sedangkan taksonomi eksperimental, pengelompokannya tidak hanya berdasarkan hubungan sifat morfologi, tetapi juga karakter-karakter mikro atau karakter non morfologi, misalnya kandungan zat kimia, jumlah kromosom dan lain-lain.

- Mikroskop

Mikroskop digunakanmisalny untuk mengamati bentuk atau "ultra structure" butir-butir pollen. Pemanfaatan data sifat-sifat pollen dalam taksonomi tumbuhan dipelopori pada tahun 1926 oleh Wodehouse, khususnya morfologi pollen. Di sisi lain kemajuan instrumentasi mikroskop memungkinkan bentuk, jumlah dan tingkah laku kromosom selama pembelahan inti dapat diamati dengan lebih baik. Harborne (1975) berkesimpulan bahwa jumlah kromosom merupakan sifat empiris yang baik dengan nilai kepastian cukup tinggi.

- Kimia

Disiplin ilmu baru yang juga dikenal sebagai kemotaksonomi ini, menurut Harborne (1975) sangat penting, karena senyawa-senyawa kimia tumbuhan merupakan sifat emperik yang bernilai, serta seringkali dapat digunakan untuk menetapkan identitas suatu tumbuhan dengan tepat. Biasanya dengan teknik kromatografi dan elektroforesis. Kedua teknik ini dapat dioperasikan untuk menganalisis bermacam-macam sampel tumbuhan yang kuantitasnya sangat kecil dengan proses yang cukup cepat. Kandungan kimia tumbuhan yang sering dianalisis dalam kerja taksonomi tumbuhan tinggi adalah terpenoid, flavanoid dan alkaloid. Metode kromatografi diterapkan secara meluas karena keuntungannya yang cepat dan efisien dalam menganalisis senyawa-senyawa kimia. Metode elektoforesis ini tercatat sebagai metode paling andal dalam memecahkan permasalahan taksonomi (Harborne, 1975), terutama apabila sifat morfologi tidak dapat atau sulit sekali dibedakan.


 

Pengoperasian teknik ini semakin pesat dengan digunakannya medium pengembang sintetis poliakrilamida. Jenis gel ini memiliki kelebihan dibandingkan medium kertas, pati, dan agar karena lebih peka dalam mengekspresikan band-band atau bercak yang merupakan aktivitas enzim.

- Genetika

Dari pengamatan morfologi, Menadue dan Crowden (1990) mengajukan hipotesa bahwa variasi morfologi Ranunculus nanus terjadi karena pengaruh sifat genetika. Untuk menguji kebenaran hipotesa tersebut, data genetika (isoenzim) digunakan dengan memanfaatkan teknik elektroforesis pada gel poliakrilamida. Empat macam enzim (Esterase, Peroxidase, Malate Dehydrogenase dan Acid Phosphatase) diujicobakan pada lima populasi R. nanus, dan hasilnya menunjukkan adanya variasi genetika di antara populasi (Suranto, 1991).


 

- DNA

Para ahli taksonomi memanfaatkan data DNA sebagai "penanda molekuler" yang cukup signifikan. Dengan RLFP, sebagian kecil fragmen DNA dari genom tumbuhan dapat diamplifikasikan untuk mendapatkan sejumlah besar fragmen DNA, sehingga dengan teknik elektroforesis pada gel agarose pemunculan fragmen DNA tersebut dapat dideteksi secara konsisten dan menjadi data yang dapat digunakan untuk kerja pada taksonomi tumbuhan tinggi. Tapi kadangkala tidak diperoleh data yang valid karena "band" fragmen DNA yang diamplifikasi dengan mesin PCR (Polymeage Chain Reaction) tidak dapat muncul secara konsisten.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan taksonomi modern cenderung menggunakanserangkaian data yang saling berkaitan dengan suatu asumsi bahwa semakin banyak data yang digunakan, maka semakin kuat validitas hasil kerja ahli taksonomi tumbuhan tinggi dalam mengkarifikasi status takson suatu tumbuhan.


 

Resume Asteraceae

Taksonomi sel epidermis daun karakteristik bersama dengan keanekaragaman stomata dalam taksa 24 dari genus Artemisia dengan menggunakan lampu mikroskop dan pemindaian mikroskop elektron. Artemisia L. adalah salah satu genus polimorfik utama keluarga Asteraceae, terdiri lebih dari 500 spesies herba dan semak-semak.spesies Artemisia memiliki kepentingan ekonomi terapi, bahan makanan, pakan ternak, estetika dan binder tanah merusak habitat; taksa beberapa beracun atau alergis dan beberapa lain gulma berbahaya, yang buruk dapat mempengaruhi tanaman. Sebagian besar spesies Artemisia adalah abadi, padang rumput lingkungan dan curah hujan yang wajar. Dengan menggunakan karakter bunga sebagai taksonomi penanda untuk pembentukan klasifikasi alami, genus telah dibagi menjadi empat kelompok, yang telah diperlakukan sebagai bagian atau subgenera; Absinthium (Tournefort) de Cand., Artemisia Tournefort (= Besser Abrotanum), Dracunculus Besser, Besser Seriphidium. McArthur mengambil terpisah Seriphidium (Besser ex Hooker) sebagai genus otonom. Tapi Kornkven et al. (1998), Torrell et al. (1999) dan Watson et al. (2002) dalam studi molekuler mereka menggabungkan Seriphidium dengan Artemisia dan menolak pemisahan Seriphidium dari Artemisia. Karena hal ini akhirnya memunculkan perdebatan tentang filogeni subgeneric dan klasifikasi. Klasifikasi klasik hanya didasarkan pada bunga karakter variasi dan memiliki keberatan banyak, misalnya bagian Artemisia hanya berbeda dari Absinthium bagian oleh karakter tunggal yaitu, wadah telanjang (Artemisia) atau wadah tutup dengan rambut panjang (Absinthium). Sehingga perbandingan anatomi daun-daun Artemisia penting.


 

Foliar karakteristik anatomi epidermis di Artemisia menggunakan lampu mikroskopi (LM) dan pemindaian mikroskop elektron (SEM). Namun tujuan titik pin dari penelitian ini adalah untuk:

  • mengidentifikasi dan membandingkan variasi yang berbeda tipe stomata pada spesies yang berbeda genus,
  • amati kuantitatif dan kualitatif karakter epidermis daun sel dan
  • menguraikan nilai taksonomi epidermis daun anatomi fitur antara taksa yang berbeda Artemisia berdasarkan pada kedua keragaman sel stomata dan epidermis

Terminologi dasar, digunakan untuk stomata dan sel epidermis identifikasi dan penjelasan, diadopsi dari Dilcher (1974). Jenisstomata yang ditemukan terdiri dari anomocytic, anisocytic, anomotetracytic, paratetracytic, diacytic dan paracytic stomata. 16 jenis trikoma foliar kelenjar dan non-kelenjar di Artemisia dan meluncurkan hubungan filogenetik di antara spesies yang berbeda dari genus dengan dasar ini Trikoma jenis. Nautiyal dan Purohit (1980) hanya dibahas frekuensi stomata dan anatomi perubahan dalam daun beberapa spesies Artemisia. Penulis Iran telah berusaha menjelaskan kegunaan taksonomi karakteristik anatomi daun Artemisia. Jenis stomata, variasi dalam ukuran stomata, sel penjaga, aperture dan stomata kompleks dan ada atau tidaknya anak perusahaan sel bersama dengan jumlah mereka menunjukkan bahwa daun tersebut fitur anatomi epidermis dapat disajikan sebagai taksonomi. alat untuk menghapus konflik ditingkat taksonomi yang berbeda dalam genus Artemisia. Berdasarkan variasi sel-sel epidermis dua kelompok Artemisia diakui, satu dengan bentuk tidak beraturan (Bergelombang margined) dan lainnya dengan bentuk memanjang (halus margined). Kesimpulannya anatomi, epidermis daun dengan khusus referensi untuk stomata memiliki signifikan taksonomi potensi.


 

Meskipun demikian, ada kebutuhan untuk mengembangkan lebih baik strategi untuk menganalisis dan mengintegrasikan data ini dengan molekul investigasi untuk gambar memahami tentang Artemisia filogeni dan klasifikasi.

percobaan

Tugas Taksonomi Tumbuhan Tinggi

Kelompok 9 :

  1. Dayu Nirwana Putri
  2. Mariatul Kiptiyah
  3. Arifatul Mu'minin
  4. Khoirul Mufid


     

Pertanyaan


 

  1. Mengapa tumbuhan paku termasuk tumbuhan tingkat tinggi? mengapa pula tumbuhan paku termasuk tumbuhan tingkat rendah?
  2. Mengapa tumbuhan paku termasuk tumbuhan kriptogami vaskular?
  3. Mengapa tumbuhan paku termasuk kelompok tumbuhan kormophita berspora?
  4. Jelaskan 4 kelompok tumbuhan paku yang menjadi pokok bahasan! disertai contoh
  5. Jelaskan macam tempat hidup tumbuhan paku!
  6. Jelaskan susunan tubuh (akar, batang, daun) tumbuhan paku!


     

Jawaban

  1. Tumbuhan paku (Pteridophyta) dapat digolongkan tumbuhan tingkat tinggi karena merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling sederhana. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril) di sekeliling organ reproduksi, sistem transpor internal, hidup di tempat yang lembap. Akar serabut berupa rizoma, ujung akar dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk epidermis, korteks, dan silinder pusat (terdapat xilem dan fleom).

    Sedangkan pada tumbuhan paku (Pteridophyta) dapat dikatakan tingkat rendah kerana meskipun tubuhnya sudah jelas mempunyai kormus serta mempunyai sistem pembuluh tetapi belum menghasilkan biji, dan alat perkembangbiakannya yang utama adalah spora

  2. Karena pada tumbuhan paku (Pteridophyta) memiliki alat perkawinan kelihatan mencolok serta selompok tumbuhan rendah yang memiliki vaskuler (pembulih) adalah kelompok Bryophyta (lumut) dan Pterydophyta (paku), Bryophyta (lumut) merupakan tumbuhan rendah yang mulai hidupdi darat dari segi evolusi dan merupakan tumbuhan peralihan, disebut tumbuhan peralihan karena anggotanya memperlihatkan tanda-tanda adanya peralihan dari bentuk thalus ke bentuk kormus.

  3.  

  4.  


     

  5. Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000 (diperkirakan 3000 di antaranya tumbuh di Indonesia), sebagian besar tumbuh di daerah tropika basah yang lembap. Tumbuhan ini cenderung menyukai kondisi air yang melimpah karena salah satu tahap hidupnya tergantung dari keberadaan air, yaitu sebagai tempat media bergerak sel sperma menuju sel telur. Tumbuhan paku pernah merajai hutan-hutan dunia di Zaman Karbon sehingga zaman itu dikenal sebagai masa keemasan tumbuhan paku. Serasah hutan tumbuhan pada zaman ini yang memfosil dan mengalami mineralisasi sekarang ditambang orang sebagai batu bara.

    Berdasarkan habitatnya, paku-pakuan dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu paku tanah, paku epifit dan paku akuatik.

    1. Paku Tanah

          Tumbuhan yang termasuk dalam kelompok ini ialah paku-pakuan yang hidup di tanah, tembok dan tebing terjal. Paku tanah ini ada dua kelompok yaitu :


       

      1. Paku pemajat

            Jenis tumbuhan ini berakar dalam tanah, memanjat pohon tetapi tidak epifit, dan menyukai keteduhan.

        contoh : Bolbitis heteroclita Ching, Lomagramma J. Smith, Teratophyllum Mettenius, Lindsaya macrana.

      2. Paku batu-batuan dan tebing sungai

            Jenis tumbuhan ini tumbuh pada batu-batu atau pada tebing sungai, dan menukai kelembaban.

        contoh : Pteris sericea Ching, Dipteria lobbiana (Hk.) Moore, Lindsaya lucida Bl., L. Nitida Bl.

    2. Paku Epifit

          Jenis tumbuhan ini hidup pada tumbuhan lain, terutama yang berbentuk pohon. Dibagi menjadi dua macam yaitu :

      1. Epifit pada tempat-tempat terlindung

            Tumbuhan ini tumbuh pada bagian bawah pohon terutama dekat dengan aliran air atau di tempat-tempat yang dibayangi pegunungan.

        contoh : anggota Hymenophyllaceae

      2. Epifit pada tempat-tempat terbuka

            Tumbuhan ini terdapat pada tempat yang terkena sinar matahari langsung atau agak teduh dan tahan terhadap angin.

        contoh : Asplenium nidus L.

    3. Paku Akuatik

          Tumbuhan yang termsuk kelompok ini mengapung bebas di permukaan air.

      Contohnya ialah anggota famili Salviniaceae dan Marsileaceae. Selain itu terdapat juga tumbuhan paku yang sebagian hidupnya berada pada air, misalnya

      Acrostichum aureum L. Pada daerah mangrove, Tectaria semibipinnata (Wall.) C. Chr. pada daerah pasang surut, Ceratopteris thalictroides Brongn pada parairan dangkal, kolam atau selokan.

  6. Susunan tubuh tumbuhan paku yaitu akar, batang, dan daun.

    Pada umumnya akar paku-pakuan adalah serabut yang bercabang-cabang secara dikotom. Ada pula yang bercabang secara monopodial atau tidak bercabang. Namun, tidak semua paku-pakuan mempunyai akar, misalnya pada bangsa Psilotales fungsi akarnya digantikan oleh rizoid.

    Pada beberapa jenis dari Hymeophyllaceae tidak mempunyai akar, akan tetapi rimpangnya tertutup rambut yang berfungsi sebagai akar. Pada Trichomanes beccarianum Cesati di bagian bawah daun seringkali terdapat rizoid yang berfungsi seperti akar.

        Letak akar tumbuhan paku bermacam-macam, antara lain pada sepanjang bagian bawah rimpang yang menjalar, misalnya Lycopodium pada seluruh permukaan rimpang, misalnya Pteris biaurita L. Pada bawah buku dan hanya kadang-kadang saja pada ruasnya, misalnya Marsilea L.

    Akar pada Selaginelales terbentuk pada ujung rizofora yaitu percabangan dari batang utama yang tidak berdaun, selain itu juga dari pangkal hipokotil atau langsung dari batang.

        Bentuk akar ada yang tipis, keras atau kasar, ada pula yang tebal dan berdaging, misalnya pada bangsa Marattiales. Warnanya ada yang hitam.

        Semua batang paku-pakuan kerap berupa rimpang karena pada umumnya arah tumbuhnya menjalar atau memanjat, meskipun ada yang tegak, misalnya pada Cyatheaceae. Diantara berbagai jenis paku-pakuan ( yang termasuk Equisetaceae, Lycopodiaceae dan Psilotaceae), disamping mempunyai rimpang juga mempunyai cabang dengan arah tumbuh tegak atau menggantung. Sedangkan batang pada Selaginelaceae arah tumbuhnya menjalar atau tegak.

    1. Bentuk

          Bentuk rimpang, batang atau cabang bermacam-macam, antara lain :

  • bulat beralur dan berusuk secara longitudinal, beruas-ruas panjang dan kaku, misalnya cabang pada Equisetaceae
  • seperti umbi, terdiri dari dua atau tiga lobus, misalnya batang Isoetes
  • panjang dan ramping, misalnya batang Marsilea L.
  • Bulat dengan simetri dorsoventral, misalnya pada beberapa angota Polypodiaceae.
  1. Permukaan

        Permukaan batang paku-pakuan tidak selalu halus, tetapi kadang-kadang dihiasi dengan bentukan tertentu.

  • Duri, misalnya Teratophyllum Mettenius
  • Rambut-rambut uniseluler, misalnya pada Selaginella braunii S. Biformis, S. Vogelii
  • Ramenta yaitubentukan seperti rambut atau sisik yang berwarna hitam, coklat kehitaman, merah kecoklatan, kuning kecoklatan, kuning, dan kadang-kadang putih, yang terdapat pada rimpang, atau sering pula pada tangkai daun, tlang dan urat daun. Ramenta ini juga dapat berbentuk perisai, misalnya pada Polypodium L., lanset atau bercabang dan seperti bintang ( misalnya pada Goniopteris ).
  • Lapisan lilin yang berwarna putih atau putih kebiruan, misalnya pada Davallia
    corniculata, dll.
  • Lubang-lubang yang biasanya ditempati semut misalnya pada Lecanopteris Reinwardt, Polypodium sinuosum Wall.
  • Sisa-sisa tangkai. Pada paku-pakuan yang tangkai daunnya bersendi, kalau tua atau kekurangan air akan rontok dengan meninggalkan bekas luka yang cukup halus pada rimpang tanpa ada sisa tangkai daun. Akan tetap pada daun paku-pakuan yang tidak bersendi, sisa-sisa tangkai masih melekat untuk waktu yang lama.
  • Ukuran

        Ukuran batang paku-pakuan sangat bervariasi dari beberapa milimeter sampai beberapa meter (terutama pada rimpang yang mejalar atau memanjat). Diameternya juga bervariasi dari beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter.

  • Warna

        Warnanya bervariasi, antara lain hijau misalnya Psilotum, merah misalnya Selaginella umbrosa, coklat atau biru kecoklatan, misalnya Equisetum. Ada pula yang berwarna coklat sampai coklat kehitaman.

  • Percabangan

        Tidak semua batang dari anggota paku-pakuan bercabang. Bila bercabang maka percabangannya adalah dikotomi, monopodial, atau pseudomonopodial.

        


 

Pada tumbuhan paku-pakuan memiliki daun.

  1. Macam daun
  • Berdasarkan tulang daun

    Dapat dibedakan :

    • Sisik
    • Mikrofil
    • Makrofil / Megafil
  • Berdasarkan fungsi

    Berdasarkan fungsi daun paku-pakuan dapat dibedakan menjadi atas tropofil dan sporofil

    • Tropofil
    • Sporofil
  1. Ciri-ciri daun
  • Umum
  • Bentuk / Bangun
  • Ukuran
    • Isofil,
    • Anisofil,
  • Warna
  • Peruratan ( Venasi )
  • Tekstur
  • Permukaan
    • Halus ( gundul )
    • Mempunyai ramenta
    • Berpapil-papil misalnya Selaginella tracphylla
    • Berambut, misalnya Selaginella hispida
    • Tertutup lapisan lilin kedua sisi, misalnya Trichomanes pallidum Bl. atau hanya di bawah, misalnya Alsophila glauca J. Sm., Cibotium baranetz J. SM. Histiopteris incisa J. SM
    • Tertutup lapisan serbuk putih atau kuning
    • Lapisn lendir sangat tebal pada permukaan daun yang masih muda
    • Sisik kapur kecil yang menutup permukaan atas daun pada bagian hidatoda


     

Jumat, 30 Maret 2012

Rosella




Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
kelas: Magnoliopsida
Ordo: Malvales
Famili: Malvaceae
Genus: Hibiscus
Spesies: Hibiscus sabdariffa L.
Habitat Rosella
Rosella dapat hidup di ketinggian 0-900m diatas permukaan laut. Rosella tumbuh baik di dataran rendah dengan ketinggian 0-500m dpl. Pertumbuhan Rosella dapat optimal di kisaran 20-34 derajat celcius.
Habitus rosella
Rosella memiliki habitus pada daerah kering tumbuhan ini berbentuk herba .
Deskripsi.
tanaman rosella banyak dijumpai di daerah kering dengan penyinaran sinar matahari penuh, dan biasanya tumbuh liar. Tanaman ini pada awalnya hanya digunakan sebagai penghias halaman rumah dan dijadikan mainan buat anak-anak. Kini rosella menjadi tanaman yang sangat populer dikalangan masyarakat Indonesia, sehingga banyak makanan ditambahkan sari bunga rosella, baik untuk penambah rasa atau pewarna. Pada prinsipnya memang tambahan makanan dari alam jauh lebih sehat karena tanpa bahan kimia yang dapat merugikan kesehatan manusia.
Pada tahun 2011 ini, Kebun BPTP-NTB telah menerapkan budidaya organik, tanaman yang ditanam di kebun diusahakan tidak menggunakan pupuk dengan kandungan bahan kimia tetapi dengan menggunakan pupuk organik seperti kompos untuk berbagai tanaman yang diusahakan, salah satunya adalah budidaya rosella dengan memanfaatkan lahan yang tersisa misalnya dipinggir-pinggir jalan. Tanaman ini diberikan sedikit pupuk kimia yaitu pupuk NPK dengan tujuan untuk menyeimbangkan penggunaan kompos yang kurang, karena ketersediaan kompos yang terbatas. Budidaya rosella tidaklah begitu sulit, tanaman ini merupakan tanaman semusim dan bisa diperbanyak dari bijinya ataupun stek batang.
Tahapan budidaya rosella yang pertamakali dilakukan adalah dengan membersihkan tanah areal pertanaman, tanah kemudian digemburkan dan dibiarkan beberapa hari. Tanah dicampur dengan pupuk kompos dengan komposisi 200-400 gr/lubang tanam, baru kemudian bisa ditanami tanaman rosella 1 bibit/lubang tanam, dengan jarak 60 cm antar baris. Setelah tanaman ini berumur 35-40 hari diberikan pupuk NPK dengan komposisi 30 gr/pohon dengan cara dikocor. Jika dengan menggunakan biji, biji terlebih dahulu direndam selama 24 jam kemudian disemai di bedengan atau bisa di polibag, setelah semai umur 21 hari, baru dipindahkan ke areal pertanaman yang terkena sinar matahai penuh, dan pemberian pupuk kompos setelah tanaman berumur 2 minggu, dengan komposisi 200-400 gr/pohon. Selanjutnya tanaman perlu diairi dan dibersihkan dari gulma. Dari keragagaman tanaman tampak bahwa tanaman rosella yang mendapatkan sinar matahari penuh, hasilnya lebih tinggi, ini menunjukkan bahwa tanaman ini sangat peka terhadap naungan. Produksi tanaman rosella rata-rata sebanyak 156-182 kuncup bunga/pohon.
Tanaman rosella yang dikonsumsi adalah kelopak bunganya yang berwarana merah terang dan bersifat cepat patah, kelopak bunga ini biasanya dikeringkan terlebih dahulu dibawah terik matahari, baru kemudian dicuci dengan air bersih sehingga debu yang mungkin menempel bisa hilang, dan diseduh dengan air hangat, rasanya agak kecut dan bisa ditambahkan gula atau madu. Selain memanfaatkan bunganya, daun tanaman ini ternyata dapat memberikan rasa asam pada makanan seperti untuk tambahan sayur asam misalnya, dan tidak perlu khwatir lagi akan kandungan nutrisi yang ada dalam bunga rosella dan daunnya ini karena,keduanya memiliki kandungan gizi yang tinggi.
Kandungan gizi daun dan Bunga Rosella :
Setiap 100 g, buah rosella mengandung 49 calories, 84.5% H2O, 1.9 g protein, 0.1 g fat, 12.3 g karbohidrat, 2.3 g serat, 1.2 g abu, 1.72 mg Ca,57 mg P, 2.9 mg Fe, 300 mg setara b-carotene, dan 14 mg asam ascorbic.
Kandungan gizi kelopak Rosella :
Setiap 100 g kelopak Rosella mengandung 44 Kalori, 86.2% H2O, 1.6 g protein,O.l g lemak, 11.1 g karbohidrat, 2.5 g serat, 1.0 g abu, 160 mg Ca, 60 mg P, 3.8 mg Fe, 285 mg setara beta carotene, 0.04 mg thiamine, 0.6 mg riboflavin, 0.5 mg niacin, dan 14 mg asam ascorbic 7.6% moisture, 24.0% protein, 22.3% lemak, 15.3% serat, 23.8% N-free extract, 7.0% abu, 0.3% Ca, 0.6% P, dan 0.4% S.
Pada tiap 100 g daun rosella mengandung :
43 Kalori, 85.6% H2O, 3.3 g protein, 0.3 g lemak, 9.2 g karbohidrat, 1.6 g serat, 1.6 g abu, 213 mg Ca, 93 mg P, 4.8 mg Fe, 4135 mg setara beta carotene, 0.17 mg thiamine, 0.45 mg riboflavin, 1.2 mg niacin, and 54 mg asam ascorbic.
Manfaat dari Bunga dan Daun :
Rosella mempunyai sifat astrigen dan antiseptik. Bisa digunakan sebagai obat batuk, diare dan berak berdarah. Kandungan vitamin C/asam askorbat yang tinggi membantu tubuh membangun sistim imunisasi/sistem pertahanan melawan penyakit. Makanya baik di minum setiap pagi, sangat membantu stamina tubuh dan menjauhkan diri dari flu dan batuk. Kalo lagi batuk minum rosella, maka lendir akan mudah keluar, dan tidak menyebabkan batuk kering.
Kegunaan lain (biasanya tertulis dibungkusan kemasan rosella) yang biasa dibeli :
-          Menurunkan tekanan darah
-          Menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes
-          Sebagai detoks, menetralkan racun
-          Menghambat tumbuhnya kanker
-          Menjaga stamina
-          Menurunkan tingkat penggumpalan lemak di hati
-          Mengurangi panas dalam dan susah buang air besar
-          Membantu memulihkan dari ketergantungan obat
-          Mengurangi pusing / migraine
-          Mengandung multivitamin, termasuk vitamin C dan beta karoten
-          Mengobati batuk, diare.